BLANTERORIONv101

Sejarah Huruf Hijaiyah (Huruf Bahasa Arab)

27 June 2020
Gambar: Sejarah Huruf Hijaiyah





A.    Pengertian Huruf Hijaiyah

Kata huruf berasal dari bahasa  Arab: harf atau huruf (حرف  أو حروف). Huruf Arab disebut juga huruf hijaiyah (هجائية). Kata hijaiyah berasal dari kata kerja hajja (هجى) yang artinya mengeja, menghitung huruf, membaca huruf demi huruf. Huruf hijaiyah disebut juga huruuf tahjiyyah (حروف تهجية).

Huruf hijaiyah disebut juga alfabet Arab. Kata alfabet itu sendiri berasal dari bahasa Arab: alif, ba’, ta’. Ada pula yang menyebutnya abjad Arab. Kata abjad juga berasal dari bahasa Arab: a-ba-ja-dun; alif, ba’, jim dan dal (أبجد). Namun ada pula yang menolak pendapat ini dengan alasan, huruf hijaiyah memiliki aturan urutan yang berbeda dengan huruf abjad. Huruf hijaiyah dimulai dari alif dan berakhir pada huruf ya’ secara terpisah-pisah. Sedang terminologi abjad urutannya disusun dalam kalimat حطى كلمن سعفص قرشت ابجد هوز . Di samping itu terminologi abjad lebih bersifat terbatas pada bahasa samiyah yang lokal (lughah samiyah al-umm).

Huruf hijaiyah berjumlah 28 huruf tunggal atau 30 jika memasukkan huruf rangkap lam-alif dan hamzah (ء) sebagai huruf yang berdiri sendiri. Orang yang pertama kali menyusun huruf hijaiyah secara berurutan mulai dari alif hingga ya’ adalah Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi (نصر بن عاصم الليثي). Cara menulis huruf Arab berbeda dengan huruf latin. Kalau huruf latin ditulis dari kiri ke kanan maka huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri.

B.    Pertumbuhan dan Perkembangan Huruf Hijaiyah

Menurut penelitian para sejarawan, tulisan Arab yang dipergunakan sekarang ini berasal dari tulisan Mesir Kuno. Hieroglyph. Dibuktikan dengan adanya temuan arkeologis yakni prasasti pada batu, pilar, di Mesir. Selain itu sisa-sisa paleografis-tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit-tertentu membuktikan bahwa orang Mesir pada masa itu memiliki pengetahuan tentang tulis-menulisdan seni tulis. Tulisan Mesir Kuno tetap digunakan dalam bentuk gambar dan beberapa diantarany berupa huruf hingga abad 5M, dan tidak mengalami banyak perubahan sampai generasi-generasi Mesir selanjutnya berakulturasi (proses bercampurnya dua/lebih kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi) dengan suku-suku di daerah lain, seperti dengan suku Lihyani di Arabia selatan dan salah satu wujud akulturasinya melahirkan jenis tulisan lihyani,  atau dengan suku Himyar di Yaman Siria dan melahirkan tulisan himyari.

Ciri tulisan pada waktu itu adalah huruf ditulis dalam bentuk lambang yang terpisah-pisah seperti huruf cetak latin, hanya huruf konsonan (selain wawu, alif, dan ya’) yang ditulis, tidak memakai titik-titik, dan terkadang satu huruf dipakai untuk beberapa huruf yang mempunyai kesamaan bentuk tanpa diberi tanda pembeda seperti lazimnya huruf pada masa sekarang.

Pada perkembangan berikutnya, tulisan Arab mengalami proses penyempurnaan bentuk meskipun belum dibedakan. Hal ini terjadi setelah adanya penetrasi budaya dan peradaban oleh suku Anbar dan Hirah (yang mendiami kawasan sekitar sungai Eufrat) terhadap masyarakat Mesir pada waktu itu. Ciri huruf atau tulisan pada fase ini adalah huruf-huruf sudah ditulis secara bersambung, juga adanya penambahan huruf yang sebelumnya tidak ada. Seperti tsa’, dzal, dhad, dla’, dan ghain. Huruf mati-alif, wawu, ya’- juga telah dipergunakan. Model tulisan yang demikian digunakan sampai abad ke-6 M.

Diperkirakan seabad sebelum kedatangan islam, orang-orang Hijaz telah belajar baca-tulis di Siria (pada suku Himyar) dan di Irak (pada suku Hirah dan Anbar). Hal ini dikarenakan hubungan dagang yang terjalin diantara mereka. Sehingga melahirkan tokoh-tokoh yang dikenal mempunyai keahlian baca-tulis Arab, seperti Bisyir bin Abdul Malik al-Kindi yang bersahabat dengan Harb bin Umayyah yang mempunyai keahlian sama, yang kemudian menikah dengan keturunan Umayyah dan mulai mengajarkan baca tulis kepada pemuda-pemuda Quraisy.

Pada akhir abad ke-6 M memasuki awal abad ke-7M, mulai banyak orang Islam yang pandai baca-tulis, khususnya di kalangan pemudanya. Karena adanya program pemberantasan buta huruf yang dicanangkan Nabi. Yakni tawanan-tawanan non muslim yang tidak membahayakan Islam jika dibebaskan dan mereka mempunyai kemampuan baca-tulis yang cukup, mangka tiap satu tawanan diharuskan mengajarkan baca tulis kepada 10 anak orang muslim sampai mahir. Diantara sahabat Nabi yang pandai baca-tulis adalah Ali bin Abi Thabib, Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan masih banyak lagi. Meskipun sebagian sahabat dan keluarganya dapat membaca dan menulis namun Nabi sendiri tak pernah mempelajari kepandaian ini. Wahyu yang turun kepada Nabi oleh sebagian sahabat yang dapat menulis, dituliskan di atas pelapah kurma, kayu,tulang, lempung, batu, dan material lain yang dapat digunakan. Beberapa bagian al-Qur’an disimpan di masjid Nabi, dirumah Nabi dan sebagian di rumah para sahabat. Dengan wafatnya Nabi pada 623 M, dan gugurnya para pengikut Nabi yang hafal seluruh al-Qur’an dalam perang seperti perang Yamamah, umat merasakan kebutuhan mendesak untuk mencatat wahyu dalam bentuk lebih permanen. Atas desakan Umar bin al-Khatab, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit –sekretaris Nabi- untuk menghimpun dan menulis semua ayat dalam susunan seperti yang ditunjukkan Nabi.

Nantinya ketika agama Islam tersebar ke berbagai belahan dunia, berkembang kekhawatiran bahwa wahyu Allah akan hilang atau menyimpang jika tak ada teks standar pada masing-masing pada pusat politik religius Negara Islam. Karena pesan al-Qur’an harus dipahami muallaf maka pentinng sekali ada satu edisi yang dapat digunakan untuk mengajar dan berdakwah.

Proses pelestarian dan tujuan dan tujuan berdakwah melahirkan kebutuhan baru untuk menyempurnakan tulisan. Berangsur-angsur aturan ditetapkan untuk menyambungkan banyak huruf Arab. Titik ditambahkan untuk membedakan huruf-huruf yang disampaikan dalam satu bentuk (shad, dhad, tha’, dla’, dal, dzal, ba’, ta’, tsa’, dan lainnya). Tanda vokal pendek di atas dan di bawah huruf (fathah untuk “a” pendek, dhammah untuk “u” pendek, dan kasrah untuk “i” pendek) dikembangkan untuk melengkapi vokal dan konsonan panjang. Metode tepat untuk menunjukkan maddah (pemanjangan vokal), syiddah (konsonan ganda), dan sukun (konsonan tak bervokal) kemudian ditambahkan sebagai penyempurna.

Model tulisan yang dipakai para sahabat Nabi dan orang Arab pada masa itu adalah tulisan hijazi, yaitu bentuk tulisan yang merupakan penyempurnaan dari rentetan pertumbuhan dan perkembangan tulisan Arab dalam proses mencari bentuk kesempurnaan huruf yang memenuhi kebutuhan bahasa.

C.    Penyempurnaan Tulisan Arab

Pada masa ini, meskipun secara harfiah tulisan Hijazi sudah lengkap, namun masih belum sempurna, tanpa tanda baca seperti titik apalagi harakat. Huruf-huruf yang sama bentuknya, tapi berlainan ejaannya belum dibedakan dengan titik. Umpama: ba’, ta’, tsa’, jim, ha’, kha’, dal, dzal, ra’, za’, dan lainnya.

Penyempurnaan ini dibutuhkan karena munculnya kasus kesalahan baca ayat suci al-Qur’an di kalangan muslimin. Kesalahan membaca ayat al-Qur’an adalah fatal sebab dapat merubah makna ayat tersebut. Dengan makin meluasnya agama Islam ke berbagai suku dan bangsa-bangsa bukan Arab yang tidak mengenal bahasa Arab, kehawatiran yang terjadinya kesalahan yang sama semakin kuat.  Karena bahasa dan tulisan Arab merupakan bahasa dan tulisan resmi al-Qur’an. Sedang bahasa dan tata bahasa Arab waktu itu belum dilakukan.

Penyempurnaan tulisan Arab selanjutnya adalah dengan:

a.     Menciptakan Syakal

Pada awal abad ke-7 M, awal daulah Umawiyah, Ziyad bin Abi Sufyan meminta kepada seorang ahli bahasa Arab, Au Aswad ad-Duali (w. 69H) untuk menciptakan syakal (tanda baca/harakat) untuk mempermudah membaca al-Qur’an dan meminimalisir kesalahan baca. Tanda baca yang diciptakan berupa titik-titik.

·       Titik satu di sebelah kiri huruf berarti dhammah (u), seperti tulisan •ط maka dibaca thu.

·       Titik satu tepat di atas huruf berarti fathah (a)

·       Titik satu tepat di bawah huruf berarti (i)

·       Bila titik didobelkan (dua titik) maka fungsinya menjadi tanwin (un, an, in).

Titik-titik yang menjadi tanda baca tulis dengan tinta merah untuk membedakan dengan huruf yang ditulis dengan tinta hitam. Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa semua huruf dalam al-Qur’an diberi tanda baca. Tetapi pendapat lain mengatakan bahwa yang diberi tanda hanyalah huruf akhir kata atau huruf-huruf yang dapat menimbulkan salah baca bila tidak diberi tanda.

b.     Membedakan Huruf yang Sama Bentuk dengan Garis

Tanda baca yang serupa titik-titik ciptaan ad-Duali sangat membantu mempermudah membaca al-Qur’an. Tetapi huruf-huruf yang bentuknya sama dan ejaannya berbeda seringkali masih  membingungkan. Ini karena huruf-huruf hijaiyah banyak yang mempunyai kesamaan bentuk baik ketika berdiri sendiri atau ketika disambung dengan huruf lain kecuali enam huruf: alif, kaf, wawu, ha’, dan mim.

Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (689-705) seorang gubernur bernama al-Hallaj bin Yusuf al-Tsaqafi meminta Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bi Ya’mar untuk memberi tanda padda huruf-huruf yang sama bentuknya tetapi berbeda ejaan. Nashr bin Yahya selanjutnya menciptakan tanda berupa garis-pendek yang diletakkan di atas atau di bawah huruf. Garis pendek itu bisa satu, dua atau tiga. Umpama: ba’, diberi satu garis pendek di bawah huruf, tsa’, diberi tiga garis pendek di atas huruf, dan seterusnya. Bila garis pendek berjumlah tiga, maka yang satu diletakkan di atas dua garis pendek yang berjajar. Garis-pendek yang berfungsi untuk membedakan huruf ini justru dibuat dengan tinta yang sama dengan tinta untuk menulis huruf, hitam. Tanda titik dan garis-pendek tetap dipakai selama pemerintahan Bani Umayyah sampai awal pemerintahan Abasiyah ± 685-750 M.

c.      Membalik tanda-tanda

Setelah beberapa waktu, sistem penandaan titik dan garis-pendek mengalami perubahan. Munculnya keluhan dari para pembaca al-Qur’an mengenai banyaknya tanda yang harus disandang huruf-huruf dalam ayat al-Qur’an yang dianggap menyulitkan, selain itu model penandaan titik dan garis-pendek dengan menggunakan tinta (waktu itu mesin cetak belum dikenal) memunculkan -problem lain. Tinta yang tidak bersifat permanen, artinya dalam beberapa waktu seringkali menjadi kabur dan bahkan hilang, bisa terkena air atau faktor lain menyebabkan garis-garis pendek menjadi seperti titik-titik atau sebaliknya, titik-titik menjadi seperti garis (Jawa: jumbuh). sementara itu tinta merah yang digunakan untuk menulis tanda titik karena terlalu lama menjadi kehitam-hitaman menyerpai huruf atau garis pendek yang memang ditulis dengan tinta hitam. Sebuah fakta yang memunculkan kesulitan baru karena orang menjadi bingung mana syakal (titik-titik) mana huruf tertentu (garis pendek).

Kesulitan ini menggerakkan seorang ahli tata bahasa Arab (Nahwu/sintaksis), al-Khalil bin Ahmad (w. 170H) mengadakan perubahan. Al-Khalil membalik fungsi tanda-baca tanda-baca yang diciptakan Abu Aswad dan Nashr-Yahya. Titik-titik yang awalnya  merupakan harakat sekarang dijadikan tanda untuk membedakan huruf yang berbentuk sama amun berbeda ejaan. Dan untuk tanda baca (syakal/harakat) al-Khalil mengambil dari huruf-huruf yang menjadi sumber bunyi (huruf vokal). Alif sebagai sumber bunyi ‘a’. Ya’ sebagai sumber bunyi ‘i’. Wawu sebagai sumber bunyi ‘u’. Kha’ sebagai tanda mati (sukun).

Tanda untuk membedakan huruf yang bentuknya sama bisa berupa tanda titik atau tanda menyerupai angka.

1.     Tanda titik

Untuk huruf-huruf yang tidak mempunyai kesamaan bentuk dengan huruf lainnya, tidak diberi tanda titik. Misalnya alif, lam, mim, dan ha’.

Untuk huruf-huruf yang berbentuk sama diberi tanda titik. Misalnya ba’, ta’, dan tsa’. Jim, cha’, dan kho’. Dal dengan dzal. Ra’ dengan za’. Sin dengan syin. Shad dengan dhad. Tha’ dengad dla’, dan lainnya.

Ba’ dengan satu titik di bawah. Ta’ dengan dua titik di atas. Tsa’ dengan tiga titik di atas. Jim dengan satu titik di bawah. Kha’ dengan satu titik di atas. Dzal dengan satu titik di atas. Syin dengan tiga titik di atas. Dhad dengan satu titik di atas.

Semua ditulis dengan tanda demikian baik ketika dipisah maupun ketika disambung. Tetapi ada beberapa huruf yang beda penandaannya ketika ditulis terpisah dan bersambung.

Fa’ dengan satu titik di atas ketika ditulis bersambung dengan huruf lain. Dan tanpa titik ketika ditulis terpisah. Qaf dengan satu titik di bawah, ada pula yang menandainya dengan dua titik di atas ketika ditulis bersambung. Dan tanpa titik ketika ditulis terpisah. Meskipun qaf nampak serupa dengan fa’, namun ulama’ terdahulu tidak menganggapnya serupa. Sebab bentuk fa’ lebih terbuka sedangkan qaf lebih tertutup. Mereka justru menyamakan bentuk qaf dengan wawu. Hanya saja dalam penulisan terpisah untuk membedakan qaf dengan wawu, qaf ditulis dengan bentuk lebih besar daripada wawu.

Pada masa-masa awal munculnya bentuk huruf hijaiyah, kaf mempunyai kesamaan bentuk dengan dal dan dzal. Hanya saja bentuk kaf ditulis lebih besar daripada keduanya. Karena perbedaan ukuran ini, kaf tidak diberi tanda titik untuk membedakannya dengan dal dan dzal.

Seperti halnya kaf, pada masa awal penandaan huruf-huruf hijaiyah, nun diserupakan bentuknya dengan ra’ dan za’ ketika ditulis terpisah dan tanpa tanda titik. Hanya saja nun ditulis dalam bentuk lebih besar dan ekor lebih tertutup. Tetapi ketika disambung, nun diberi tanda satu titik di atas sebab menyerupai bentuk ba’ dan saudaranya.

Huruf ya’ ketika disambung diberi tanda dua titik di bawah karena menyerupai nun, ba’ dan saudaranya. Tetapi ketika ditulis terpisah atau sendirian tidak diberi tanda apapun karena karena tidak dikhawatirkan serupa dengan huruf lain.

Riwayat ini menunjukkan bahwa bentuk tulisan dan penandaan yang demikian adalah jenis tulisan Kufi pada abad-abad permulaan dan belum mengalami penyempurnaan.

2.     Tanda Angka

Untuk membedakan huruf-huruf yang serupa bentuknya, ada ulama’ yang menggunakan angka atau tanda selain titik. Misalnya di atas huruf ra’ dan sin ditulis tanda menyerupai angka 7.  Tanda ini ditulis di salah satu huruf yang serupa bentuknya saja. Jadi, jika ada huruf menyerupai sin tetapi di atasnya tidak ada tanda seperti angka 7 berarti itu huruf syin. Atau bila ada huruf seperti ra’ dan di atasnya tidak ada tanda demikian berarti itu huruf za’.

Ada pula yang ditandai dengan huruf. Misalnya, di atas huruf cha’ dan ‘ain diberi tanda seperti huruf ‘د’. Di bawah huruf shad diberi tanda lingkaran kecil. Dan bila ada huruf yang bentuknya seperti shad tetapi tidak ada tanda lingkaran kecil di bawahnya, berarti adalah huruf dhad.

Namun penggunaan tanda-tanda ini untuk membedakan huruf jarang dipakai sebab dianggap terlalu rumit dan sulit mengingatnya karena tanda yang dipakai berbeda-beda.

d.     Tanda khusus pada saat huruf diucapkan

Tanda ini hampir menyerupai harakat dalam hal fungsi dan posisinya. Kalau harakat menjadi vokal atau menunjukkan bunyi huruf yang menerimanya, maka tanda ini lebih mengarah pada bentuk huruf saat ditulis dan baru tampak fungsinya ketika huruf yang menerima tanda ini diucapkan.

            Tanda khusus itu adalah:

1.     Tanda pengganti hamzah

Pada masa permulaan Islam, masyarakat Islam pada masa itu hanya mengenal alif sebagai bentuk hamzah, bahkan Mushaf Utsmani juga melambangkan hamzah dengan alif. Penduduk Hijaz hanya mengenal hamzah jika berada di awal kalimat. Namun ketika hamzah itu berada di tengah atau di akhir, mereka mengganti hamzah tersebut dengan huruf yang sesuai dengan harakat yang paling kuat. Secara berurutan dari sisi kekuatan harakat adalah kasrah, dhammah, fathah. Sedangkan yang paling lemah adalah sukun, kasrah dengan ya’, dhammah dengan wawu, dan fathah dengan alif. Huruf-huruf inilah yang selanjutnya menggantikan posisi hamzah jika berada di tengah, dan di akhir. Dalam perkembangan kaidah kebahasaan berikutnya, hal ini dikenal dengan tashil. Yaitu meringankan bacaan hamzah dan menggantinya dengan huruf yang sesuai dengan harakatnya.

Mushaf Utsmani juga menampakkan hamzah bila hamzah berada di awal kalimat saja dan hanya dilambangkan dengan alif. Mushaf Utsmani tidak mengenal hamzah di tengah dan di akhir kalimat. Sebab hamzah di dua tempat tersebut dalam Mushaf Utsmani semuanya diganti dengan huruf mad (alif, wawu, ya’). Selanjutnya diciptakanlah tanda baru untuk menunjukkan adanya hamzah di tengah atau di akhir kalimat. Sebab tanda titik yang diciptakan oleh Abu Aswad ad-Duali sebagai harakat tidak menunjukkan keberadaan hamzah.

Tanda baru tersebut ada yang berupa titik yang dibuat dengan tinta warna kuning atau merah. Ada pula yang cukup menulis huruf pengganti hamzah dengan tinta kuning atau merah. Artinya, bila di tengah  kalimat atau di akhir kalimat ada tanda titik atau huruf yang ditulis dengan warna kuning atau merah, berarti tanda atau huruf itu adalah hamzah. Dalam perkembangan huruf pada masa berikutnya hamzah tidak ditandai dengan tinta berbeda, tetapi sudah diberi bentuk, seperti tanda ra’sul ‘ain (kepala ‘ain).

2.     Tanda sukun

Sukun bukanlah harakat. Sebaliknya, sukun menunjukkan tidak adanya harakat. Karena itu ketika suatu huruf menerima sukun, ia menjadi ringan bacaannya. Ada banyak pendapat mengenai tanda sukun. Penduduk Andalusia menggunakan tanda jurrah atau jarrah (tanda yang diambil dari huruf kha’) yang diletakkan di atas huruf untuk menunjukkan sukun. Penduduk Madinah menggunakan tanda bulatan kecil (diambil dari kepala mim setelah tangkai atau badannya dibuang) yang diletakkan di atas huruf.

3.     Tanda tasydid

Tulisan-tulisan Arab pada mulanya tidak menggunakan tanda khusus untuk huruf yang ditasydid atau bersuara ganda. Dan ditulis hanya dengan satu huruf seperti huruf-huruf lain yang tidak bersuara ganda. Sehingga muncul persangkaan bahwa huruf yang bersuara ganda memang cuma satu huruf.

Karena itu disepakati untuk membuat tanda khusus bagi huruf yang bersuara ganda. Ada dua tanda khusus yang digunakan: yaitu kepala syin (), diambil dari kata شديد . Tanda ini dibuat oleh al-Khalil bin Ahmad. Tanda kepala syin ini diletakkan di atas huruf yang bersuara ganda baik huruf itu bersuara ‘a’, ‘i’, atau ‘u’.

Sedangkan tanda satunya adalah huruf dal yang ditulis dalam bentuk lebih kecil. Tanda ini diambil dari huruf dal di akhir kata شديد . tanda dal diletakkan di atas huruf bila bersuara ‘a’, di bawah huruf jika berharakat kasrah, dan diletakkan di depan huruf yang bersuara ganda jika bersuara ‘u’. Tanda tasydid yang demikian banyak digunakan oleh penduduk Madinah.

4.     Tanda tanwin

Tanwin adalah suara nun mati yang berada di akhir isim yang menerima tanwin (munsharif), isim yang tidak dimasuki alif-lam (al), dan isim yang tidak dimudhafkan. Para penulis mushaf tidak melambangkan tanwin dengan nun, mereka juga tidak meletakkan tanda apapun untuk menunjukkan adanya tanwin baik ketika rafak atau jer. Hanya ketika nasab saja para penulis mushaf menambahkan alif di akhir kalimat.

Abu Aswad ad-Duali (ketika menciptakan tanda titik untuk menunjukkan harakat, satu titik yang diletakkan di atas huruf untuk harakat fathah, satu titik di depan huruf untuk harakat dhammah, dan satu titik di bawah huruf untuk kasrah) hanya memberi tanda dua titik, satu titik untuk menunjukkan harakat dan satu titik untuk menunjukkan adanya tanwin. Sehingga untuk huruf yang menerima tanwin fathah/nasab, Abu Aswad meletakkan tanda dua titik di atas huruf, untuk tanwin dhammah/rafak ditulis dengan dua titik di depan huruf, dan untuk tanwin kasrah/jer, Abu Aswad memberi tanda dua titik di bawah huruf. Semua tanda titik ini, baik titik harakat atau titik tanwin ditulis dengan tinta warna merah.

Kemudian al-Khalil menyempurnakan tanda titik yang dibuat Abu Aswad untuk menandai tanwin dengan tanda garis. Satu titik satu garis, dan dua titik dua garis. Sedangkan tanda titik sendiri oleh al-Khalil digunakan untuk membedakan huruf-huruf yang berbentuk sama tetapi berbeda ejaan. Setelah tanda tanwin yang diciptakan al-Khalil, tanda tanwin tidak serta merta berubah seperti sekarang. Ada beberapa perubahan dan perbedaan pendapat mengenai perubahan lanjutan tanda tanwin.

Menurut al-Qolqosyandi, ulama mutaakhirin menggunakan huruf wawu dan garis yang ditulis dalam bentuk kecil dan diletakkan di atas huruf yang menyandang tanwin dhammah atau dhammatain. Huruf wawu menunjukkan dhammah dan tanda garis menunjukkan tanwin. Ada pula yang menggunakan huruf wawu dobel yang ditulis saling berhadapan, satu wawu menghadap ke depan dan satunya menghadap ke belakang dalam posisi terbalik (ٌ).

Tanda-tanda ciptaan al-Khalil banyak yang menjadi dasar untuk tanda-tanda dalam tulisan Arab sampai sekarang. Proses penyempurnaan huruf-huruf hijaiyah ini terjadi sampai abad ke-8 M. Tulisan atau huruf Arab yang sudah mengalami proses perubahan dan penyempurnaan itulah yang sekarang dipakai sebagai huruf Arab resmi internasional. Wa Allahu a’lam bisshowab.

Sumber: Ma’rifatul Munjiyah.2012.Kaidah-Kaidah Imla’. Malang: UIN-Maliki Press.