![]() |
| Gambar: Sejarah Huruf Hijaiyah |
A. Pengertian Huruf Hijaiyah
Kata
huruf berasal dari bahasa Arab: harf atau huruf (حرف أو حروف). Huruf Arab disebut juga
huruf hijaiyah (هجائية). Kata hijaiyah
berasal dari kata kerja hajja (هجى)
yang artinya mengeja, menghitung huruf, membaca huruf demi huruf. Huruf
hijaiyah disebut juga huruuf tahjiyyah (حروف تهجية).
Huruf hijaiyah disebut juga alfabet Arab. Kata alfabet
itu sendiri berasal dari bahasa Arab: alif, ba’, ta’. Ada
pula yang menyebutnya abjad Arab. Kata abjad juga berasal dari bahasa Arab:
a-ba-ja-dun; alif, ba’, jim dan dal (أبجد).
Namun ada pula yang menolak pendapat ini dengan alasan, huruf hijaiyah memiliki
aturan urutan yang berbeda dengan huruf abjad. Huruf hijaiyah dimulai dari alif
dan berakhir pada huruf ya’ secara terpisah-pisah. Sedang terminologi abjad
urutannya disusun dalam kalimat حطى كلمن سعفص قرشت ابجد هوز . Di samping itu terminologi
abjad lebih bersifat terbatas pada bahasa samiyah yang lokal (lughah
samiyah al-umm).
Huruf hijaiyah berjumlah 28 huruf tunggal atau 30 jika
memasukkan huruf rangkap lam-alif dan hamzah (ء)
sebagai huruf yang berdiri sendiri. Orang yang pertama kali menyusun huruf
hijaiyah secara berurutan mulai dari alif hingga ya’ adalah Nashr bin ‘Ashim
al-Laitsi (نصر بن عاصم الليثي).
Cara menulis huruf Arab berbeda dengan huruf latin. Kalau huruf latin ditulis
dari kiri ke kanan maka huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri.
B. Pertumbuhan
dan Perkembangan Huruf Hijaiyah
Menurut penelitian para sejarawan, tulisan Arab yang
dipergunakan sekarang ini berasal dari tulisan Mesir Kuno. Hieroglyph.
Dibuktikan dengan adanya temuan arkeologis yakni prasasti pada batu, pilar, di
Mesir. Selain itu sisa-sisa paleografis-tulisan pada material seperti papyrus
dan kertas kulit-tertentu membuktikan bahwa orang Mesir pada masa itu memiliki
pengetahuan tentang tulis-menulisdan seni tulis. Tulisan Mesir Kuno tetap digunakan
dalam bentuk gambar dan beberapa diantarany berupa huruf hingga abad 5M, dan
tidak mengalami banyak perubahan sampai generasi-generasi Mesir selanjutnya
berakulturasi (proses bercampurnya dua/lebih kebudayaan karena percampuran
bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi) dengan suku-suku di daerah lain, seperti
dengan suku Lihyani di Arabia selatan dan salah satu wujud akulturasinya
melahirkan jenis tulisan lihyani, atau dengan suku Himyar di Yaman Siria dan
melahirkan tulisan himyari.
Ciri tulisan pada waktu itu adalah huruf ditulis dalam
bentuk lambang yang terpisah-pisah seperti huruf cetak latin, hanya huruf
konsonan (selain wawu, alif, dan ya’) yang ditulis, tidak memakai titik-titik,
dan terkadang satu huruf dipakai untuk beberapa huruf yang mempunyai kesamaan
bentuk tanpa diberi tanda pembeda seperti lazimnya huruf pada masa sekarang.
Pada perkembangan berikutnya, tulisan Arab mengalami
proses penyempurnaan bentuk meskipun belum dibedakan. Hal ini terjadi setelah
adanya penetrasi budaya dan peradaban oleh suku Anbar dan Hirah (yang mendiami
kawasan sekitar sungai Eufrat) terhadap masyarakat Mesir pada waktu itu. Ciri
huruf atau tulisan pada fase ini adalah huruf-huruf sudah ditulis secara
bersambung, juga adanya penambahan huruf yang sebelumnya tidak ada. Seperti tsa’,
dzal, dhad, dla’, dan ghain. Huruf mati-alif, wawu,
ya’- juga telah dipergunakan. Model tulisan yang demikian digunakan sampai abad
ke-6 M.
Diperkirakan seabad sebelum kedatangan islam,
orang-orang Hijaz telah belajar baca-tulis di Siria (pada suku Himyar) dan di
Irak (pada suku Hirah dan Anbar). Hal ini dikarenakan hubungan dagang yang
terjalin diantara mereka. Sehingga melahirkan tokoh-tokoh yang dikenal
mempunyai keahlian baca-tulis Arab, seperti Bisyir bin Abdul Malik al-Kindi
yang bersahabat dengan Harb bin Umayyah yang mempunyai keahlian sama, yang
kemudian menikah dengan keturunan Umayyah dan mulai mengajarkan baca tulis
kepada pemuda-pemuda Quraisy.
Pada akhir abad ke-6 M memasuki awal abad ke-7M, mulai
banyak orang Islam yang pandai baca-tulis, khususnya di kalangan pemudanya.
Karena adanya program pemberantasan buta huruf yang dicanangkan Nabi. Yakni
tawanan-tawanan non muslim yang tidak membahayakan Islam jika dibebaskan dan
mereka mempunyai kemampuan baca-tulis yang cukup, mangka tiap satu tawanan
diharuskan mengajarkan baca tulis kepada 10 anak orang muslim sampai mahir.
Diantara sahabat Nabi yang pandai baca-tulis adalah Ali bin Abi Thabib, Umar
bin Khattab, Usman bin ‘Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan masih banyak lagi.
Meskipun sebagian sahabat dan keluarganya dapat membaca dan menulis namun Nabi
sendiri tak pernah mempelajari kepandaian ini. Wahyu yang turun kepada Nabi
oleh sebagian sahabat yang dapat menulis, dituliskan di atas pelapah kurma, kayu,tulang,
lempung, batu, dan material lain yang dapat digunakan. Beberapa bagian
al-Qur’an disimpan di masjid Nabi, dirumah Nabi dan sebagian di rumah para
sahabat. Dengan wafatnya Nabi pada 623 M, dan gugurnya para pengikut Nabi yang
hafal seluruh al-Qur’an dalam perang seperti perang Yamamah, umat merasakan kebutuhan
mendesak untuk mencatat wahyu dalam bentuk lebih permanen. Atas desakan Umar
bin al-Khatab, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit –sekretaris Nabi- untuk
menghimpun dan menulis semua ayat dalam susunan seperti yang ditunjukkan Nabi.
Nantinya ketika agama Islam tersebar ke berbagai
belahan dunia, berkembang kekhawatiran bahwa wahyu Allah akan hilang atau
menyimpang jika tak ada teks standar pada masing-masing pada pusat politik
religius Negara Islam. Karena pesan al-Qur’an harus dipahami muallaf maka
pentinng sekali ada satu edisi yang dapat digunakan untuk mengajar dan
berdakwah.
Proses pelestarian dan tujuan dan tujuan berdakwah
melahirkan kebutuhan baru untuk menyempurnakan tulisan. Berangsur-angsur aturan
ditetapkan untuk menyambungkan banyak huruf Arab. Titik ditambahkan untuk
membedakan huruf-huruf yang disampaikan dalam satu bentuk (shad, dhad, tha’,
dla’, dal, dzal, ba’, ta’, tsa’, dan lainnya). Tanda vokal pendek di atas dan di
bawah huruf (fathah untuk “a” pendek, dhammah untuk “u” pendek, dan kasrah
untuk “i” pendek) dikembangkan untuk melengkapi vokal dan konsonan panjang.
Metode tepat untuk menunjukkan maddah (pemanjangan vokal), syiddah
(konsonan ganda), dan sukun (konsonan tak bervokal) kemudian ditambahkan
sebagai penyempurna.
Model tulisan yang dipakai para sahabat Nabi dan orang
Arab pada masa itu adalah tulisan hijazi, yaitu bentuk tulisan yang
merupakan penyempurnaan dari rentetan pertumbuhan dan perkembangan tulisan Arab
dalam proses mencari bentuk kesempurnaan huruf yang memenuhi kebutuhan bahasa.
C.
Penyempurnaan Tulisan Arab
Pada
masa ini, meskipun secara harfiah tulisan Hijazi sudah lengkap, namun masih
belum sempurna, tanpa tanda baca seperti titik apalagi harakat. Huruf-huruf
yang sama bentuknya, tapi berlainan ejaannya belum dibedakan dengan titik.
Umpama: ba’, ta’, tsa’, jim, ha’, kha’,
dal, dzal, ra’, za’, dan lainnya.
Penyempurnaan
ini dibutuhkan karena munculnya kasus kesalahan baca ayat suci al-Qur’an di
kalangan muslimin. Kesalahan membaca ayat al-Qur’an adalah fatal sebab dapat
merubah makna ayat tersebut. Dengan makin meluasnya agama Islam ke berbagai
suku dan bangsa-bangsa bukan Arab yang tidak mengenal bahasa Arab, kehawatiran
yang terjadinya kesalahan yang sama semakin kuat. Karena bahasa dan tulisan Arab merupakan
bahasa dan tulisan resmi al-Qur’an. Sedang bahasa dan tata bahasa Arab waktu
itu belum dilakukan.
Penyempurnaan tulisan Arab
selanjutnya adalah dengan:
a.
Menciptakan Syakal
Pada
awal abad ke-7 M, awal daulah Umawiyah, Ziyad bin Abi Sufyan meminta kepada
seorang ahli bahasa Arab, Au Aswad ad-Duali (w. 69H) untuk menciptakan syakal
(tanda baca/harakat) untuk mempermudah membaca al-Qur’an dan meminimalisir
kesalahan baca. Tanda baca yang diciptakan berupa titik-titik.
· Titik satu di sebelah kiri huruf berarti dhammah (u), seperti
tulisan •ط
maka dibaca thu.
· Titik satu tepat di atas huruf berarti
fathah (a)
· Titik satu tepat di bawah huruf berarti (i)
· Bila titik didobelkan (dua titik) maka
fungsinya menjadi tanwin (un, an, in).
Titik-titik
yang menjadi tanda baca tulis dengan tinta merah untuk membedakan dengan huruf
yang ditulis dengan tinta hitam. Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa semua
huruf dalam al-Qur’an diberi tanda baca. Tetapi pendapat lain mengatakan bahwa
yang diberi tanda hanyalah huruf akhir kata atau huruf-huruf yang dapat
menimbulkan salah baca bila tidak diberi tanda.
b.
Membedakan Huruf yang Sama Bentuk dengan Garis
Tanda
baca yang serupa titik-titik ciptaan ad-Duali sangat membantu mempermudah
membaca al-Qur’an. Tetapi huruf-huruf yang bentuknya sama dan ejaannya berbeda
seringkali masih membingungkan. Ini
karena huruf-huruf hijaiyah banyak yang mempunyai kesamaan bentuk baik ketika
berdiri sendiri atau ketika disambung dengan huruf lain kecuali enam huruf:
alif, kaf, wawu, ha’, dan mim.
Pada
masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (689-705) seorang gubernur bernama
al-Hallaj bin Yusuf al-Tsaqafi meminta Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bi Ya’mar
untuk memberi tanda padda huruf-huruf yang sama bentuknya tetapi berbeda ejaan.
Nashr bin Yahya selanjutnya menciptakan tanda berupa garis-pendek yang
diletakkan di atas atau di bawah huruf. Garis pendek itu bisa satu, dua atau
tiga. Umpama: ba’, diberi satu garis pendek di bawah huruf, tsa’, diberi tiga
garis pendek di atas huruf, dan seterusnya. Bila garis pendek berjumlah tiga,
maka yang satu diletakkan di atas dua garis pendek yang berjajar. Garis-pendek
yang berfungsi untuk membedakan huruf ini justru dibuat dengan tinta yang sama
dengan tinta untuk menulis huruf, hitam. Tanda titik dan garis-pendek tetap
dipakai selama pemerintahan Bani Umayyah sampai awal pemerintahan Abasiyah ±
685-750 M.
c.
Membalik tanda-tanda
Setelah
beberapa waktu, sistem penandaan titik dan garis-pendek mengalami perubahan.
Munculnya keluhan dari para pembaca al-Qur’an mengenai banyaknya tanda yang
harus disandang huruf-huruf dalam ayat al-Qur’an yang dianggap menyulitkan,
selain itu model penandaan titik dan garis-pendek dengan menggunakan tinta
(waktu itu mesin cetak belum dikenal) memunculkan -problem lain. Tinta yang
tidak bersifat permanen, artinya dalam beberapa waktu seringkali menjadi kabur
dan bahkan hilang, bisa terkena air atau faktor lain menyebabkan garis-garis
pendek menjadi seperti titik-titik atau sebaliknya, titik-titik menjadi seperti
garis (Jawa: jumbuh). sementara itu tinta merah yang digunakan untuk menulis
tanda titik karena terlalu lama menjadi kehitam-hitaman menyerpai huruf atau
garis pendek yang memang ditulis dengan tinta hitam. Sebuah fakta yang
memunculkan kesulitan baru karena orang menjadi bingung mana syakal
(titik-titik) mana huruf tertentu (garis pendek).
Kesulitan
ini menggerakkan seorang ahli tata bahasa Arab (Nahwu/sintaksis), al-Khalil bin
Ahmad (w. 170H) mengadakan perubahan. Al-Khalil membalik fungsi tanda-baca
tanda-baca yang diciptakan Abu Aswad dan Nashr-Yahya. Titik-titik yang
awalnya merupakan harakat sekarang
dijadikan tanda untuk membedakan huruf yang berbentuk sama amun berbeda ejaan.
Dan untuk tanda baca (syakal/harakat) al-Khalil mengambil dari huruf-huruf yang
menjadi sumber bunyi (huruf vokal). Alif sebagai sumber bunyi ‘a’. Ya’
sebagai sumber bunyi ‘i’. Wawu sebagai sumber bunyi ‘u’. Kha’
sebagai tanda mati (sukun).
Tanda
untuk membedakan huruf yang bentuknya sama bisa berupa tanda titik atau tanda
menyerupai angka.
1.
Tanda
titik
Untuk
huruf-huruf yang tidak mempunyai kesamaan bentuk dengan huruf lainnya, tidak
diberi tanda titik. Misalnya alif, lam, mim, dan ha’.
Untuk
huruf-huruf yang berbentuk sama diberi tanda titik. Misalnya ba’, ta’, dan
tsa’. Jim, cha’, dan kho’. Dal dengan dzal. Ra’ dengan za’. Sin dengan syin.
Shad dengan dhad. Tha’ dengad dla’, dan lainnya.
Ba’
dengan satu titik di bawah. Ta’ dengan dua titik di atas. Tsa’ dengan tiga
titik di atas. Jim dengan satu titik di bawah. Kha’ dengan satu titik di atas.
Dzal dengan satu titik di atas. Syin dengan tiga titik di atas. Dhad dengan
satu titik di atas.
Semua
ditulis dengan tanda demikian baik ketika dipisah maupun ketika disambung.
Tetapi ada beberapa huruf yang beda penandaannya ketika ditulis terpisah dan
bersambung.
Fa’
dengan satu titik di atas ketika ditulis bersambung dengan huruf lain. Dan
tanpa titik ketika ditulis terpisah. Qaf dengan satu titik di bawah, ada pula
yang menandainya dengan dua titik di atas ketika ditulis bersambung. Dan tanpa
titik ketika ditulis terpisah. Meskipun qaf nampak serupa dengan fa’, namun
ulama’ terdahulu tidak menganggapnya serupa. Sebab bentuk fa’ lebih terbuka
sedangkan qaf lebih tertutup. Mereka justru menyamakan bentuk qaf dengan wawu.
Hanya saja dalam penulisan terpisah untuk membedakan qaf dengan wawu, qaf
ditulis dengan bentuk lebih besar daripada wawu.
Pada
masa-masa awal munculnya bentuk huruf hijaiyah, kaf mempunyai kesamaan bentuk
dengan dal dan dzal. Hanya saja bentuk kaf ditulis lebih besar daripada
keduanya. Karena perbedaan ukuran ini, kaf tidak diberi tanda titik untuk
membedakannya dengan dal dan dzal.
Seperti
halnya kaf, pada masa awal penandaan huruf-huruf hijaiyah, nun diserupakan
bentuknya dengan ra’ dan za’ ketika ditulis terpisah dan tanpa tanda titik.
Hanya saja nun ditulis dalam bentuk lebih besar dan ekor lebih tertutup. Tetapi
ketika disambung, nun diberi tanda satu titik di atas sebab menyerupai bentuk
ba’ dan saudaranya.
Huruf
ya’ ketika disambung diberi tanda dua titik di bawah karena menyerupai nun, ba’
dan saudaranya. Tetapi ketika ditulis terpisah atau sendirian tidak diberi
tanda apapun karena karena tidak dikhawatirkan serupa dengan huruf lain.
Riwayat
ini menunjukkan bahwa bentuk tulisan dan penandaan yang demikian adalah jenis
tulisan Kufi pada abad-abad permulaan dan belum mengalami penyempurnaan.
2.
Tanda
Angka
Untuk
membedakan huruf-huruf yang serupa bentuknya, ada ulama’ yang menggunakan angka
atau tanda selain titik. Misalnya di atas huruf ra’ dan sin ditulis tanda
menyerupai angka 7. Tanda ini ditulis di
salah satu huruf yang serupa bentuknya saja. Jadi, jika ada huruf menyerupai
sin tetapi di atasnya tidak ada tanda seperti angka 7 berarti itu huruf syin.
Atau bila ada huruf seperti ra’ dan di atasnya tidak ada tanda demikian berarti
itu huruf za’.
Ada
pula yang ditandai dengan huruf. Misalnya, di atas huruf cha’ dan ‘ain diberi
tanda seperti huruf ‘د’. Di bawah huruf shad
diberi tanda lingkaran kecil. Dan bila ada huruf yang bentuknya seperti shad
tetapi tidak ada tanda lingkaran kecil di bawahnya, berarti adalah huruf dhad.
Namun
penggunaan tanda-tanda ini untuk membedakan huruf jarang dipakai sebab dianggap
terlalu rumit dan sulit mengingatnya karena tanda yang dipakai berbeda-beda.
d.
Tanda
khusus pada saat huruf diucapkan
Tanda
ini hampir menyerupai harakat dalam hal fungsi dan posisinya. Kalau harakat
menjadi vokal atau menunjukkan bunyi huruf yang menerimanya, maka tanda ini
lebih mengarah pada bentuk huruf saat ditulis dan baru tampak fungsinya ketika
huruf yang menerima tanda ini diucapkan.
Tanda
khusus itu adalah:
1.
Tanda
pengganti hamzah
Pada
masa permulaan Islam, masyarakat Islam pada masa itu hanya mengenal alif
sebagai bentuk hamzah, bahkan Mushaf Utsmani juga melambangkan hamzah dengan
alif. Penduduk Hijaz hanya mengenal hamzah jika berada di awal kalimat. Namun
ketika hamzah itu berada di tengah atau di akhir, mereka mengganti hamzah tersebut
dengan huruf yang sesuai dengan harakat yang paling kuat. Secara berurutan dari
sisi kekuatan harakat adalah kasrah, dhammah, fathah. Sedangkan yang paling
lemah adalah sukun, kasrah dengan ya’, dhammah dengan wawu, dan fathah dengan
alif. Huruf-huruf inilah yang selanjutnya menggantikan posisi hamzah jika
berada di tengah, dan di akhir. Dalam perkembangan kaidah kebahasaan
berikutnya, hal ini dikenal dengan tashil. Yaitu meringankan bacaan
hamzah dan menggantinya dengan huruf yang sesuai dengan harakatnya.
Mushaf
Utsmani juga menampakkan hamzah bila hamzah berada di awal kalimat saja dan
hanya dilambangkan dengan alif. Mushaf Utsmani tidak mengenal hamzah di tengah
dan di akhir kalimat. Sebab hamzah di dua tempat tersebut dalam Mushaf Utsmani
semuanya diganti dengan huruf mad (alif, wawu, ya’). Selanjutnya diciptakanlah
tanda baru untuk menunjukkan adanya hamzah di tengah atau di akhir kalimat.
Sebab tanda titik yang diciptakan oleh Abu Aswad ad-Duali sebagai harakat tidak
menunjukkan keberadaan hamzah.
Tanda
baru tersebut ada yang berupa titik yang dibuat dengan tinta warna kuning atau
merah. Ada pula yang cukup menulis huruf pengganti hamzah dengan tinta kuning
atau merah. Artinya, bila di tengah
kalimat atau di akhir kalimat ada tanda titik atau huruf yang ditulis
dengan warna kuning atau merah, berarti tanda atau huruf itu adalah hamzah.
Dalam perkembangan huruf pada masa berikutnya hamzah tidak ditandai dengan
tinta berbeda, tetapi sudah diberi bentuk, seperti tanda ra’sul ‘ain
(kepala ‘ain).
2.
Tanda
sukun
Sukun
bukanlah harakat. Sebaliknya, sukun menunjukkan tidak adanya harakat. Karena
itu ketika suatu huruf menerima sukun, ia menjadi ringan bacaannya. Ada banyak
pendapat mengenai tanda sukun. Penduduk Andalusia menggunakan tanda jurrah
atau jarrah (tanda yang diambil dari huruf kha’) yang diletakkan di atas
huruf untuk menunjukkan sukun. Penduduk Madinah menggunakan tanda bulatan kecil
(diambil dari kepala mim setelah tangkai atau badannya dibuang) yang diletakkan
di atas huruf.
3.
Tanda
tasydid
Tulisan-tulisan
Arab pada mulanya tidak menggunakan tanda khusus untuk huruf yang ditasydid
atau bersuara ganda. Dan ditulis hanya dengan satu huruf seperti huruf-huruf
lain yang tidak bersuara ganda. Sehingga muncul persangkaan bahwa huruf yang
bersuara ganda memang cuma satu huruf.
Karena
itu disepakati untuk membuat tanda khusus bagi huruf yang bersuara ganda. Ada
dua tanda khusus yang digunakan: yaitu kepala syin (ﺸ),
diambil dari kata شديد . Tanda ini dibuat oleh al-Khalil bin
Ahmad. Tanda kepala syin ini diletakkan di atas huruf yang bersuara ganda baik
huruf itu bersuara ‘a’, ‘i’, atau ‘u’.
Sedangkan tanda satunya adalah huruf dal yang ditulis
dalam bentuk lebih kecil. Tanda ini diambil dari huruf dal di akhir kata شديد . tanda dal diletakkan di atas huruf bila
bersuara ‘a’, di bawah huruf jika berharakat kasrah, dan diletakkan di depan
huruf yang bersuara ganda jika bersuara ‘u’. Tanda tasydid yang demikian banyak
digunakan oleh penduduk Madinah.
4. Tanda tanwin
Tanwin adalah suara nun mati yang berada di akhir isim
yang menerima tanwin (munsharif), isim yang tidak dimasuki alif-lam (al), dan
isim yang tidak dimudhafkan. Para penulis mushaf tidak melambangkan tanwin
dengan nun, mereka juga tidak meletakkan tanda apapun untuk menunjukkan adanya
tanwin baik ketika rafak atau jer. Hanya ketika nasab saja para penulis mushaf
menambahkan alif di akhir kalimat.
Abu Aswad ad-Duali (ketika menciptakan tanda titik
untuk menunjukkan harakat, satu titik yang diletakkan di atas huruf untuk
harakat fathah, satu titik di depan huruf untuk harakat dhammah, dan satu titik
di bawah huruf untuk kasrah) hanya memberi tanda dua titik, satu titik untuk
menunjukkan harakat dan satu titik untuk menunjukkan adanya tanwin. Sehingga
untuk huruf yang menerima tanwin fathah/nasab, Abu Aswad meletakkan tanda dua
titik di atas huruf, untuk tanwin dhammah/rafak ditulis dengan dua titik di
depan huruf, dan untuk tanwin kasrah/jer, Abu Aswad memberi tanda dua titik di
bawah huruf. Semua tanda titik ini, baik titik harakat atau titik tanwin ditulis
dengan tinta warna merah.
Kemudian al-Khalil menyempurnakan tanda titik yang
dibuat Abu Aswad untuk menandai tanwin dengan tanda garis. Satu titik satu
garis, dan dua titik dua garis. Sedangkan tanda titik sendiri oleh al-Khalil
digunakan untuk membedakan huruf-huruf yang berbentuk sama tetapi berbeda
ejaan. Setelah tanda tanwin yang diciptakan al-Khalil, tanda tanwin tidak serta
merta berubah seperti sekarang. Ada beberapa perubahan dan perbedaan pendapat
mengenai perubahan lanjutan tanda tanwin.
Menurut al-Qolqosyandi, ulama mutaakhirin
menggunakan huruf wawu dan garis yang ditulis dalam bentuk kecil dan diletakkan
di atas huruf yang menyandang tanwin dhammah atau dhammatain. Huruf wawu
menunjukkan dhammah dan tanda garis menunjukkan tanwin. Ada pula yang
menggunakan huruf wawu dobel yang ditulis saling berhadapan, satu wawu
menghadap ke depan dan satunya menghadap ke belakang dalam posisi terbalik (ٌ).
Tanda-tanda ciptaan al-Khalil banyak yang menjadi
dasar untuk tanda-tanda dalam tulisan Arab sampai sekarang. Proses
penyempurnaan huruf-huruf hijaiyah ini terjadi sampai abad ke-8 M. Tulisan atau
huruf Arab yang sudah mengalami proses perubahan dan penyempurnaan itulah yang
sekarang dipakai sebagai huruf Arab resmi internasional. Wa Allahu a’lam
bisshowab.
Sumber:
Ma’rifatul Munjiyah.2012.Kaidah-Kaidah Imla’. Malang: UIN-Maliki
Press.

Comments