BLANTERORIONv101

Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi'liyah

7 April 2019

Gambar: Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi'liyah


Setelah memahami tentang jumlah (kalimat), pembahasan berikutnya adalah tentang pembagian jumlah. Jumlah terbagi menjadi 2 macam, yakni jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah. Pembagian ini berdasarkan komposisi yang membentuk suatu susunan jumlah. Nominal ataukah Verbal.
1.     Jumlah Ismiyyah (kalimat nominal)
Jumlah Ismiyyah, merupakan jumlah (kalimat) yang dibentuk oleh kata benda. jumlah ini paling umum berbentuk mubtada’- khobar, ialah berupa kata awalan dan keterangan. Keterangan berfungsi  untuk menggambarkan keadaan, sifat, bentuk dan sebagainya dari awalan. Contoh:
Ø  الْمَرْأَةُ جَمِيْلَةٌ
Ø  الَّرجُلُ جَمِيْلٌ
Ø  الْبَيْتُ كَبِيْرٌ
Ø  الْعَرَبِيَّةُ هِيَ سَهْلَةٌ
Sebuah jumlah yang di dalamnya hanya berupa dua isim saja (tanpa fi’il) seperti contoh di atas sudah bisa dikatakan mufid, artinya punya faidah dan bisa memahamkan pendengar (jika diucapkan) atau pembaca (jika ditulis) jumlah tersebut.
Jumlah ismiyyah sebenarnya tak hanya jumlah yang berupa isim saja, melainkan juga termasuk jumlah yang di dalamnya mengandung fi’il tetapi bertempat setelah isim, dan isim sendiri posisinya sebagai subjek. Contoh:
Ø  سَعِيْدٌ يُسَافِرُ إِلَى دِمَشْقَ
Ø  زَيْدٌ يَكْتُبُ كِتَاباً

2.     Jumlah Fi’liyah (kalimat verbal)
Jumlah Fi’liyyah, merupakan kalimat yang terbentuk dan diawali dengan kata kerja (fi’l).  Contoh:
Ø  يَجْلِسُ طَارِقٌ عَلَى الْكُرْسِيِّ
Ø  يَشْرَبُ زَيْنٌ الْقَهْوَةَ
Ø  أَكَلَتْ فَاطِمَةُ فَطُوْرَهَا
Meskipun istilahnya jumlah fi’liyyah, kita lihat dari contoh di atas bahwa sudah pasti dalam susunan jumlah terdapat kalimah isim yang berposisi sebagai pelaku atau subjeknya.
Dari pembagian beserta contoh-contoh yang disebutkan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1.     Jumlah terbagi menjadi 2, jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah
2.     Jumlah ismiyyah sudah dapat terbentuk meskipun kalimah (kata) yang menyusunnya hanya berupa isim, berbentuk mubtada’-khobar misalnya.
3.     Jumlah fi’liyyah ditandai dengan diawalinya jumlah dengan kalimah fi’il, dan mesti membutuhkan isim yang berposisi sebagai subjeknya.
Sekian pembahasan kali ini, sampai jumpa di tulisan selanjutnya. wassalam.