![]() |
| Gambar: Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi'liyah |
Setelah memahami tentang jumlah (kalimat), pembahasan berikutnya
adalah tentang pembagian jumlah. Jumlah terbagi menjadi 2 macam, yakni jumlah
ismiyyah dan jumlah fi’liyyah. Pembagian ini berdasarkan komposisi yang membentuk
suatu susunan jumlah. Nominal ataukah Verbal.
1.
Jumlah
Ismiyyah (kalimat nominal)
Jumlah Ismiyyah, merupakan jumlah (kalimat) yang dibentuk oleh kata
benda. jumlah ini paling umum berbentuk mubtada’- khobar, ialah berupa kata
awalan dan keterangan. Keterangan berfungsi
untuk menggambarkan keadaan, sifat, bentuk dan sebagainya dari awalan.
Contoh:
Ø الْمَرْأَةُ جَمِيْلَةٌ
Ø الَّرجُلُ جَمِيْلٌ
Ø الْبَيْتُ كَبِيْرٌ
Ø الْعَرَبِيَّةُ هِيَ سَهْلَةٌ
Sebuah jumlah yang di dalamnya hanya berupa dua isim saja (tanpa
fi’il) seperti contoh di atas sudah bisa dikatakan mufid, artinya punya faidah
dan bisa memahamkan pendengar (jika diucapkan) atau pembaca (jika ditulis)
jumlah tersebut.
Jumlah ismiyyah sebenarnya tak hanya jumlah yang berupa isim saja,
melainkan juga termasuk jumlah yang di dalamnya mengandung fi’il tetapi
bertempat setelah isim, dan isim sendiri posisinya sebagai subjek. Contoh:
Ø سَعِيْدٌ يُسَافِرُ إِلَى دِمَشْقَ
Ø زَيْدٌ يَكْتُبُ
كِتَاباً
2.
Jumlah
Fi’liyah (kalimat verbal)
Jumlah Fi’liyyah, merupakan kalimat yang terbentuk dan diawali
dengan kata kerja (fi’l). Contoh:
Ø يَجْلِسُ طَارِقٌ
عَلَى الْكُرْسِيِّ
Ø يَشْرَبُ زَيْنٌ
الْقَهْوَةَ
Ø أَكَلَتْ فَاطِمَةُ
فَطُوْرَهَا
Meskipun istilahnya jumlah fi’liyyah, kita lihat dari contoh di
atas bahwa sudah pasti dalam susunan jumlah terdapat kalimah isim yang
berposisi sebagai pelaku atau subjeknya.
Dari pembagian beserta contoh-contoh yang disebutkan di atas, kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1.
Jumlah
terbagi menjadi 2, jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah
2.
Jumlah
ismiyyah sudah dapat terbentuk meskipun kalimah (kata) yang menyusunnya hanya
berupa isim, berbentuk mubtada’-khobar misalnya.
3.
Jumlah
fi’liyyah ditandai dengan diawalinya jumlah dengan kalimah fi’il, dan mesti
membutuhkan isim yang berposisi sebagai subjeknya.
Sekian pembahasan kali ini, sampai jumpa di tulisan selanjutnya. wassalam.

Comments