Jika kita telah tahu bahwa ada 3 jenis kalimah penyusun kalam
yakni: isim, fi’il, huruf, maka pada kesempatan kali ini kita akan bahas
tanda-tanda yang membedakan ketiga jenis kalimah tersebut. mengetahui
tanda-tanda ini berfungsi untuk mendeteksi mana yang termasuk isim, mana fi’il
dan huruf dalam sebuah kalam (kalimat bahasa arab). Berikut ini adalah
penjelasan yang kami ambil dari kitab ‘ syarh mukhtashar jiddan ‘ala matni al
ajurumiyah’ karya Ahmad Zaini Dahlan :
1.
Isim
Isim adalah kalimah (kata) dalam bahasa arab yang menunjukkan makna
pada makna pada dirinya sendiri, dan tidak terkait dengan waktu. Isim dapat
diketahui dengan ciri: khafad, tanwin, masuknya alif dan lam (al ta’rif), dan masuknya
huruf khafad. 4 ciri ini yang membuat isim berbeda dengan fi’il dan huruf.
· Ciri yang pertama adalah khafad, contohnya: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَ غُلاَمِ زَيْدٍ kata ‘zaid’ dibaca ‘zaidin’ (majrur/khafad)
karena ada huruf ba’ sebelumnya. Begitu pula kata ‘ghulam’ dibaca 'ghulami’ (majrur/khafad) karena
ba’ tersebut. kata zaid dan ghulam, keduanya adalah isim karena adanya tanda
khafad yaitu kasrah dan kasrotain.
· Ciri yang kedua adalah tanwin (yang
termasuk tanwin: fathatain, kasrotain, dhommatain), contohnya: زَيْدٌ وَ رَجُلٌ kata zaidun dan rajulun keduanya adalah isim
karena menyandang tanwin.
· Ciri yang ketiga adalah karena masuknya
alif dan lam (al ta’rif),
contohnya: الرَّجُلُ وَ الْغُلاَمُ kata ar rajulu dan al ghulamu, keduanya termasuk
isim dikarenakan adanya al-ta’rif.
· Ciri keempat adalah masuknya huruf khafad,
contohnya: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ huruf ba’ pada kata ‘bizaidin’ adalah termasuk
huruf khafad. Huruf khafad berfungsi mengkasrohkan (jarr) huruf akhir sebuah
kata. Huruf khafad yang disebutkan di dalam matan al-ajurumiyah adalah مِنْ , إِلَى, عَنْ, فِيْ, رُبَّ, (ب)
ba’, (ك)
kaf, (ل)
lam dan tiga huruf qosam yakni (و)
wawu, (ب)
ba’, dan (ت)
ta’.
2. Fi’il
Fi’il adalah sebuah kalimah (kata) dalam
bahasa arab yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dan terkait dengan
zaman (waktu). Jika fi’il ini menunjukkan waktu lampau (sudah terjadi), maka
disebut dengan fi’il madhi, sedangkan jika menunjukkan waktu yang sedang atau
akan datang maka disebut dengan fi’il mudhori’, dan jika menunjukkan
permintaan/perintah sesuatu maka disebut fi’il amr. Ada beberapa ciri yang
membuat fi’il berbeda dengan isim dan huruf.
· Ciri fi’il yang pertama ditandai dengan
adanya قَدْ.
Contoh pada fi’il madhi: قَدْ قَامَ
dan contoh pada fi’il mudhori’ : قَدْ يَكُوْنُ
. Kedua contoh tersebut (kata ‘qoma’ dan ‘yaqumu’) adalah fi’il.
· Ciri fi’il yang kedua ditandai dengan
adanya س
(sin) dan سَوْفَ
. Kedua ciri ini khusus untuk fi’il mudhori’. Contohnya: سَيَقُوْمُ زَيْدٌ
dan سَوْفَ يَقُوْمُ زَيْدٌ
kata ‘yaqumu adalah fi’il.
· Ciri fi’il yang ketiga ialah ditandai
dengan ta’ ta’nis. Ciri ini dikhususkan untuk fi’il madhi. Contoh: قَامَتْ فَاطِمَة.
3. Huruf
Huruf adalah sebuah kalimah (kata) yang
menunjukkan makna selain dirinya. Menurut hemat penulis, huruf biasanya adalah
kata penghubung. Baru memiliki makna jika sudah dihubungkan pada kata lainnya.
Ia tak memiliki ciri khusus, hanya perlu diingat apa saja yang termasuk huruf.
Huruf yang di maksud bukanlah huruf tetap (mabaniy) yaitu huruf hijaiyah,
melainkan huruf yang dimaksud adalah yang memiliki makna jika disambung.
Seperti huruf khafad/huruf jarr: مِنْ , إِلَى, عَنْ, فِيْ, رُبَّ,(ب)
ba’, (ك)
kaf, (ل)
lam dan tiga huruf qosam yakni (و)
wawu, (ب)
ba’, dan (ت)
ta’. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Semoga Bermanfaat.

Comments