![]() |
| Gambar: I'rab (Lafdzi dan Taqdiri) |
I’rab ialah perubahan harakat atau keadaan setiap akhir kalimah
(kata) karena ada ‘amil-‘amil yang masuk
yang menyebabkan perubahan. Perubahan tersebut bisa terlihat secara lafdzi atau
juga bisa secara taqdiri. Ada empat jenis tanda i’rab, yang biasa kita sebut;
rofa’, nashob, khafad (jarr), jazem. Dari keempat tanda i’rab itu,
masing-masing memiliki tanda ashli. Tanda ashli i’rab rofa’ adalah dhommah dan
dhommatain. Tanda ashli i’rab nashob adalah fathah dan fathatain. Tanda ashli
i’rab khafad (jarr) adalah kasroh dan kasrotain. Tanda ashli i’rab jazem adalah
sukun.
Kita contohkan sebuah jumlah (kalimat) berikut: قَرَأَ زَيْدٌ كِتَابًا فِي الْغُرْفَةِ (Zaid membaca sebuah buku di kamar).
Penjelasan: kata قَرَأَ
adalah fi’il madhi. Fi’il madhi (kata kerja lampau) selamanya akan fathah
harakat akhirnya, fathah inilah yang termasuk tanda i’rab nashob. Lalu kata زَيْدْ
ini adalah nama orang, berkedudukan sebagai fa’il (pelaku), sesuai kaidahnya
fa’il itu marfu’, makanya زَيْدْ
harakat akhirnya adalah dhommatain pada contoh di atas, dhommatain adalah salah satu tanda dari rofa’.
Selanjutnya kata كِتَابًا berharakat akhir fathatain. Fathatain
adalah salah satu tanda i’rab nashob. Yang terakhir adalah kata الْغُرْفَةِ
berharakat akhir kasroh disebabkan adanya huruf khofad/jarr sebelumnya yaitu فِيْ
. Harakat kasroh di akhir inilah yang
dinamakan tanda i’rab jarr. Kemudian yang belum disebutkan dalam contoh
tersebut yaitu tanda i’rab jazem. لَمْ أَفْهَمْ
(saya belum paham). Kataلَمْ adalah bagian dari amil jawazim yang berfungsi
men-jazem (sukun)-kan. Harakat sukun pada mim dalam kata أَفْهَمْ
itulah yang dimaksud tanda i’rab jazem.
Ada dua jenis i’rab berdasarkan jelas
tidaknya tanda i’rabnya. I’rab lafdzi dan i’rab taqdiri. Berikut penjelasannya:
v I’rab Lafdzi
Ialah perubahan yang dimaksud pada
pengertian i’rab terlihat jelas dari lafadznya. Sebagaimana yang telah
disebutkan di atas, semua contoh itu terlihat dengan jelas tanda i’rabnya
sesuai amil yang mempengaruhi. Maksudnya yakni jika rofa’ ditandai dengan
harokat dhommah atau dhommatain, jika nashob ditandai dengan harokat fathah
atau fathatain, jika khofad/jarr ditandai dengan kasroh atau kasrotain, dan
jika jazem ditandai dengan sukun. Demikian itu sesuai dengan kaidah pada
umumnya.
Contoh lagi: جَاءَ زَيْدٌ، رَأَيْتُ زَيْدًا، مَرَرْتُ بِزَيْدٍ . Dari ketiga contoh tersebut
kita lihat pada kata “Zaid” terlihat jelas bukan? perubahan yang dimaksud.
v I’rab Taqdiri
Ialah jenis i’rab yang tidak terlihat
berubah meskipun berganti ‘amil. Tidak terlihatnya perubahan ini biasanya
terjadi pada isim jamid yang tetap punya satu bentuk. Contohnya: جَاءَ الْفَتَى، رَأَيْتُ الْفَتَى، مَرَرْتُ
بِالْفَتَى
. Dari ketiga contoh tersebut pada kata al-fata sama sekali tak terlihat
perubahannya. Harakat dan keadannya tetap. Ber-i’rab rofa’, nashob, atau jarr,
keadaan dan harakat akhirnya tetap.
Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.

Comments