BLANTERORIONv101

Pengertian I'rab | Lafdzi dan Taqdiri

22 February 2020
Gambar: I'rab (Lafdzi dan Taqdiri)



I’rab ialah perubahan harakat atau keadaan setiap akhir kalimah (kata) karena ada  ‘amil-‘amil yang masuk yang menyebabkan perubahan. Perubahan tersebut bisa terlihat secara lafdzi atau juga bisa secara taqdiri. Ada empat jenis tanda i’rab, yang biasa kita sebut; rofa’, nashob, khafad (jarr), jazem. Dari keempat tanda i’rab itu, masing-masing memiliki tanda ashli. Tanda ashli i’rab rofa’ adalah dhommah dan dhommatain. Tanda ashli i’rab nashob adalah fathah dan fathatain. Tanda ashli i’rab khafad (jarr) adalah kasroh dan kasrotain. Tanda ashli i’rab jazem adalah sukun.
            Kita contohkan sebuah jumlah (kalimat) berikut: قَرَأَ زَيْدٌ كِتَابًا فِي الْغُرْفَةِ  (Zaid membaca sebuah buku di kamar). Penjelasan: kata قَرَأَ adalah fi’il madhi. Fi’il madhi (kata kerja lampau) selamanya akan fathah harakat akhirnya, fathah inilah yang termasuk tanda i’rab nashob. Lalu kata زَيْدْ ini adalah nama orang, berkedudukan sebagai fa’il (pelaku), sesuai kaidahnya fa’il itu marfu’, makanya زَيْدْ harakat akhirnya adalah dhommatain pada contoh di atas, dhommatain adalah salah satu tanda dari rofa’. Selanjutnya kata كِتَابًا berharakat akhir fathatain. Fathatain adalah salah satu tanda i’rab nashob. Yang terakhir adalah kata الْغُرْفَةِ berharakat akhir kasroh disebabkan adanya huruf khofad/jarr sebelumnya yaitu فِيْ . Harakat kasroh di akhir inilah yang dinamakan tanda i’rab jarr. Kemudian yang belum disebutkan dalam contoh tersebut yaitu tanda i’rab jazem. لَمْ أَفْهَمْ (saya belum paham). Kataلَمْ adalah bagian dari amil jawazim yang berfungsi men-jazem (sukun)-kan. Harakat sukun pada mim dalam kata أَفْهَمْ itulah yang dimaksud tanda i’rab jazem.
Ada dua jenis i’rab berdasarkan jelas tidaknya tanda i’rabnya. I’rab lafdzi dan i’rab taqdiri. Berikut penjelasannya:
v I’rab Lafdzi
Ialah perubahan yang dimaksud pada pengertian i’rab terlihat jelas dari lafadznya. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, semua contoh itu terlihat dengan jelas tanda i’rabnya sesuai amil yang mempengaruhi. Maksudnya yakni jika rofa’ ditandai dengan harokat dhommah atau dhommatain, jika nashob ditandai dengan harokat fathah atau fathatain, jika khofad/jarr ditandai dengan kasroh atau kasrotain, dan jika jazem ditandai dengan sukun. Demikian itu sesuai dengan kaidah pada umumnya.
Contoh lagi: جَاءَ زَيْدٌ، رَأَيْتُ زَيْدًا، مَرَرْتُ بِزَيْدٍ . Dari ketiga contoh tersebut kita lihat pada kata “Zaid” terlihat jelas bukan? perubahan yang dimaksud.
v I’rab Taqdiri
Ialah jenis i’rab yang tidak terlihat berubah meskipun berganti ‘amil. Tidak terlihatnya perubahan ini biasanya terjadi pada isim jamid yang tetap punya satu bentuk. Contohnya: جَاءَ الْفَتَى، رَأَيْتُ الْفَتَى، مَرَرْتُ بِالْفَتَى . Dari ketiga contoh tersebut pada kata al-fata sama sekali tak terlihat perubahannya. Harakat dan keadannya tetap. Ber-i’rab rofa’, nashob, atau jarr, keadaan dan harakat akhirnya tetap.
Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.