BLANTERORIONv101

Mengenal Kitab Amtsilah Tashrifiyah, Kitab Shorof Dasar

14 June 2020

Gambar: Kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah

Bagi pelajar bahasa Arab pasti tak asing dengan kitab ini, al-Amtsilah at-Tashrifiyah. Kitab ini dikarang oleh KH Ma’shum bin Ali, salah satu ulama asli Indonesia. KH Ma’shum lahir di Maskumambang, Gresik, berasal dari Pondok Pesantren Seblak Jombang. Nama lengkapnya adalah Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar al-Maskumambani. Beliau wafat pada tanggal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933.

Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman pertamanya terdapat sambutan berbahasa Arab dari mantan menteri agama RI, KH Saifuddin Zuhri.

Sesuai nama kitabnya al-Amtsilah at-Tashrifiyah yang merupakan himpunan contoh-contoh perubahan bentuk kata yang dikenal dengan tashrif. Ada dua macam tashrif dalam kitab ini. Pertama, at-tashrif  al-isthilahi, memuat perubahan bentuk kata dari fi’il madhi, fi’il mudhari’, mashdar, mashdar mim, isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amar, fi’il nahi, isim zaman, isim makan, isim alat.  Ada yang menyebut tashrif ini dengan sebutan Tashrif   Horizontal. Karena perubahan kata yang terjadi dari kanan (fi’il madhi) meng-arah hingga yang paling kiri (isim alat).  Kedua at-tashrif  al-lughowi, adalah perubahan bentuk kata yang didasarkan atas perubahan jumlah dan jenis pelakunya. Dari jumlah pelakunya, terbagi menjadi 3 (tiga) macam yakni: Mufrod(tunggal), Tatsniyah(dua), dan Jamak(tiga dan lebih). Sedangkan dari jenis pelakunya; Mudzakkar (laki-laki) dan Muannats (perempuan). Ada yang menyebut jenis tashrif ini sebagai Tashrif  Vertikal sebab perubahan yang terjadi adalah dari atas ke bawah.  

Kitab ini, diajarkan bagi para mubtadi’in/ pemula dalam belajar bahasa Arab baik di pondok pesantren, madrasah, bahkan di perkuliahan prodi Pendidikan Bahasa Arab. Hal ini berdasarkan pengalaman penulis yang pernah mengenyam pendidikan di Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim, Malaang 2012 silam. Waktu semester pertama, dalam matakuliah shorof, yang pertama diperkenalkan adalah kitab tersebut. Ini adalah ibarat kitab pegangan wajib bagi mahasiswa bahasa Arab. Bahkan disarankan untuk dihafalkan isinya paling tidak pada at-tashrif al-istilahi minimal sampai bab 6 saja. Setelah setahun di Asrama UIN Malang, penulis kemudian tinggal di Pondok Pesantren Anwarul Huda. Di situ penulis masuk dalam kelas awaliyah di madrasah diniyah. Ternyata kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah lagi-lagi diajarkan dan jadi pegangan santri. Tak peduli seberapa kecil dan tipis kitab ini, kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah juga menjadi referensi dalam pembelajaran bahasa Arab dalam kancah akademik internasional. Wah betapa bangganya kita memiliki ulama nusantara yang produktif menulis dan karyanya di akui mancanegara. Sebuah hal yang menginspirasi bukan?