![]() |
| Gambar: Kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah |
Bagi pelajar bahasa Arab pasti tak asing dengan kitab ini,
al-Amtsilah at-Tashrifiyah. Kitab ini dikarang oleh KH Ma’shum bin Ali, salah
satu ulama asli Indonesia. KH Ma’shum lahir di Maskumambang, Gresik, berasal
dari Pondok Pesantren Seblak Jombang. Nama lengkapnya adalah Muhammad Ma’shum
bin Ali bin Abdul Jabbar al-Maskumambani. Beliau wafat pada tanggal 24 Ramadhan
1351 atau 8 Januari 1933.
Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini telah diterbitkan oleh
banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman
pertamanya terdapat sambutan berbahasa Arab dari mantan menteri agama RI, KH
Saifuddin Zuhri.
Sesuai nama kitabnya al-Amtsilah at-Tashrifiyah yang merupakan himpunan
contoh-contoh perubahan bentuk kata yang dikenal dengan tashrif. Ada dua macam
tashrif dalam kitab ini. Pertama, at-tashrif
al-isthilahi, memuat perubahan bentuk kata dari fi’il madhi, fi’il
mudhari’, mashdar, mashdar mim, isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amar, fi’il
nahi, isim zaman, isim makan, isim alat.
Ada yang menyebut tashrif ini dengan sebutan Tashrif Horizontal. Karena perubahan kata yang
terjadi dari kanan (fi’il madhi) meng-arah hingga yang paling kiri (isim alat).
Kedua at-tashrif
al-lughowi, adalah perubahan bentuk kata yang didasarkan atas perubahan jumlah
dan jenis pelakunya. Dari jumlah pelakunya, terbagi menjadi 3 (tiga)
macam yakni: Mufrod(tunggal), Tatsniyah(dua), dan Jamak(tiga dan lebih).
Sedangkan dari jenis pelakunya; Mudzakkar (laki-laki) dan Muannats (perempuan).
Ada yang menyebut jenis tashrif ini sebagai Tashrif Vertikal sebab perubahan yang terjadi adalah
dari atas ke bawah.
Kitab ini, diajarkan bagi para mubtadi’in/ pemula dalam belajar
bahasa Arab baik di pondok pesantren, madrasah, bahkan di perkuliahan prodi
Pendidikan Bahasa Arab. Hal ini berdasarkan pengalaman penulis yang pernah
mengenyam pendidikan di Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah
UIN Maulana Malik Ibrahim, Malaang 2012 silam. Waktu semester pertama, dalam
matakuliah shorof, yang pertama diperkenalkan adalah kitab tersebut. Ini adalah
ibarat kitab pegangan wajib bagi mahasiswa bahasa Arab. Bahkan disarankan untuk
dihafalkan isinya paling tidak pada at-tashrif al-istilahi minimal sampai bab 6
saja. Setelah setahun di Asrama UIN Malang, penulis kemudian tinggal di Pondok
Pesantren Anwarul Huda. Di situ penulis masuk dalam kelas awaliyah di madrasah
diniyah. Ternyata kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah lagi-lagi diajarkan dan jadi
pegangan santri. Tak peduli seberapa kecil dan tipis kitab ini, kitab
al-Amtsilah at-Tashrifiyah juga menjadi referensi dalam pembelajaran bahasa
Arab dalam kancah akademik internasional. Wah betapa bangganya kita memiliki
ulama nusantara yang produktif menulis dan karyanya di akui mancanegara. Sebuah
hal yang menginspirasi bukan?

Comments