BLANTERORIONv101

Mengenal Ilmu Nahwu | Gramatikal Bahasa Arab

4 July 2020
                                       
Gambar: Pengertian Ilmu Nahwu


Bagi kalian yang pernah belajar bahasa Arab dipastikan tak asing jika mendengar kata Nahwu, lain halnya jika yang mendengar adalah mereka yang belum pernah mempelajari bahasa Arab sama sekali sudah tentu tak tahu apa itu Nahwu.
Kali ini kita akan bahas tentang Nahwu dengan berusaha semaksimal mungkin agar uraian dan penjelasan dalam tulisan ini mampu dipahami bahkan oleh orang yang sebelumnya belum pernah mempelajari apa itu Nahwu.
Nahwu adalah salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari tentang hubungan antara beberapa kata dalam satu kalimat dan menjelaskan fungsinya. Termasuk pelaku, kata kerja, objek, dan kata, kata sifat, kata keterangan, kalimat pasif, kalimat aktif, dan lain-lain. Sebagaimana dalam Bahasa Indonesia kita kenal dengan S-P-O-K. Dalam bahasa Arab, setiap jenis kata yang tersusun dalam kalimat akan mempengaruhi harakat pada baris akhir kata. Misalnya, jika kata berfungsi sebagai subjek maka harakat akhirnya adalah dhammah, jika sebagai kata kerja lampau (fi’il madhi) maka harakat akhirnya fathah, jika sebagai objek maka harakat akhirnya adalah fathah dan seterusnya. Nah, bab tersendiri dalam ilmu nahwu yang mempelajari harakat akhir kata dalam susunan kalimat dikenal dengan istilah i’rab.
Pertanyaan yang mungkin muncul kemudian adalah, apakah selamanya kata yang memiliki jabatan sebagai subyek selalu dhammah harakat akhirnya, kata kerja lampau (fi’il madhi) selalu fathah, objek selalu fathah? Jawabannya beragam. Satu misal adalah fi’il madhi, akan selalu fathah huruf akhirnya. Sedangkan subjek tak selalu ditandai dengan dhammah, melainkan bisa dhammatain, wawu, atau alif. Objek tak selalu fathah melainkan juga bisa ditandai dengan dengan fathatain, ya’, dan bisa kasrah. Kok bingung ya? Hehee. Perlu kita ketahui bahwa sebenarnya tanda i’rab secara umum ada empat, i’rab rofa’, i’rab nashob, i’rab khofad/jarr, dan i’rab jazem. Coba kita perinci satu persatu di bawah ini agar lebih mudah memahaminya.
1.     I’rab Rofa’, memiliki 4 tanda yaitu dhammah, wawu, alif, dan nun. Yang menjadi tanda asal i’rab rofa’ adalah dhammah, selain itu adalah tanda pengganti dhammah, secara teori. Dhammah menjadi tanda i’rab rofa’ pada empat tempat yaitu isim mufrod, jamak taksir, jamak muannats salim, dan fi’il mudhari’ alladzi lam yattashilu bi akhiri syai’(tidak bersambung dengan apapun). Wawu menjadi tanda i’rab rofa’ pada dua tempat yaitu jamak mudzakkar salim dan al-asma’ al-khomsah. Alif menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada mutsanna. Nun menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada fi’il mudhari’ yang bersambung dengan dhomir tatsniyah atau dhomir jamak atau dhomir muannatsah mukhotobah.
2.     I’rab Nashob, memiliki 5 tanda yaitu fathah, alif, kasroh, ya, dan hadzfun-nun. Salah satu dari kelima tanda itu yang menjadi tanda asal i’rab nashob adalah fathah. Selain fathah, yang lainnya adalah tanda pengganti. Fathah menjadi tanda i’rab nashob pada tiga tempat yakni isim mufrad, jamak taksir, dan fi’il mudhori’ idza dakhola alaihi nasibun wa lam yattashilu biakhirihi syaiun(ketika kemasukan amil nasib, dan tidak bersambung dengan apapun). Alif menjadi tanda i’rab nashob pada al-asma’ al-khomsah. Kasroh menjadi tanda i’rab nashob pada jamak muannats salim.  Ya’ menjadi tanda i’rab nashob pada dua tempat yaitu tatsniyah dan jamak. Terakhir, hadzfun-nun menjadi tanda i’rab nashob pada al-af’al al-khomsah allati rof’uha bi tsabatin nun(yang ketika keadaan rofa’ tandanya adalah dengan tetapnya nun.
3.     I’rab Khofad/Jarr, memiliki 3 tanda yaitu kasroh, ya’ dan fathah. Kasroh adalah tanda asalnya dan yang lain adalah tanda penggantinya. Kasroh menjadi tanda i’rab khofad pada tiga tempat ialah isim mufrod munshorif, jamak taksir munshorif, dan jamak muannats salim. Ya’ menjadi tanda i’rab khofad pada tiga tempat yaitu pada al-asma’ al-khomsah, tatsniyah, dan jamak. Fathah menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada isim ghoiru munshorif/al-ismu alladzi la yunshorifu (isim yang tidak bisa ditashrif, tetap dalam satu bentuk, tidak bisa berubah)
4.     I’rab Jazem, memiliki 2 tanda sukun dan hadzf. Sukun adalah tanda asalnya sedangkan hadzf sebagai tanda penggantinya. Sukun menjadi tanda i’rab jazem di satu tempat yaitu fi’il mudhori’ as-shohih al-akhir (yang shohih huruf akhirnya). Hadzf menjadi tanda i’rab jazem pada dua tempat yaitu pada fi’il mudhori’ yang mu’tal huruf akhirnya dan al-af’al allati rof’uha bi tsabatin nun (fi’il-fi’il yang ketika keadaan rofa’ tandanya dengan tetapnya nun).
Demikian perinciannya, jika kalian masih bingung memahaminya, klik di sini untuk melihat contoh-contohnya dalam tabel. Karena ilmu nahwu sesuai namanya yang artinya Nahwu=contoh, maka perlu banyak contoh untuk memahami ilmu nahwu. Demikian sedikit ulasan kami tentang Ilmu Nahwu, semoga bermanfaat.