Bagi
kalian yang pernah belajar bahasa Arab dipastikan tak asing jika mendengar kata
Nahwu, lain halnya jika yang mendengar adalah mereka yang belum pernah
mempelajari bahasa Arab sama sekali sudah tentu tak tahu apa itu Nahwu.
Kali
ini kita akan bahas tentang Nahwu dengan berusaha semaksimal mungkin agar
uraian dan penjelasan dalam tulisan ini mampu dipahami bahkan oleh orang yang
sebelumnya belum pernah mempelajari apa itu Nahwu.
Nahwu
adalah salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari tentang hubungan
antara beberapa kata dalam satu kalimat dan menjelaskan fungsinya. Termasuk
pelaku, kata kerja, objek, dan kata, kata sifat, kata keterangan, kalimat
pasif, kalimat aktif, dan lain-lain. Sebagaimana dalam Bahasa Indonesia kita
kenal dengan S-P-O-K. Dalam bahasa Arab, setiap jenis kata yang tersusun dalam
kalimat akan mempengaruhi harakat pada baris akhir kata. Misalnya, jika kata
berfungsi sebagai subjek maka harakat akhirnya adalah dhammah, jika sebagai
kata kerja lampau (fi’il madhi) maka harakat akhirnya fathah, jika sebagai
objek maka harakat akhirnya adalah fathah dan seterusnya. Nah, bab tersendiri
dalam ilmu nahwu yang mempelajari harakat akhir kata dalam susunan kalimat
dikenal dengan istilah i’rab.
Pertanyaan
yang mungkin muncul kemudian adalah, apakah selamanya kata yang memiliki jabatan
sebagai subyek selalu dhammah harakat akhirnya, kata kerja lampau (fi’il madhi)
selalu fathah, objek selalu fathah? Jawabannya beragam. Satu misal adalah fi’il
madhi, akan selalu fathah huruf akhirnya. Sedangkan subjek tak selalu ditandai
dengan dhammah, melainkan bisa dhammatain, wawu, atau alif. Objek tak selalu
fathah melainkan juga bisa ditandai dengan dengan fathatain, ya’, dan bisa
kasrah. Kok bingung ya? Hehee. Perlu kita ketahui bahwa sebenarnya tanda i’rab
secara umum ada empat, i’rab rofa’, i’rab nashob, i’rab khofad/jarr, dan i’rab jazem.
Coba kita perinci satu persatu di bawah ini agar lebih mudah memahaminya.
1.
I’rab
Rofa’, memiliki 4 tanda yaitu dhammah,
wawu, alif, dan nun. Yang menjadi tanda asal i’rab rofa’ adalah dhammah, selain
itu adalah tanda pengganti dhammah, secara teori. Dhammah menjadi tanda i’rab
rofa’ pada empat tempat yaitu isim mufrod, jamak taksir, jamak muannats salim,
dan fi’il mudhari’ alladzi lam yattashilu bi akhiri syai’(tidak bersambung
dengan apapun). Wawu menjadi tanda i’rab rofa’ pada dua tempat yaitu jamak
mudzakkar salim dan al-asma’ al-khomsah. Alif menjadi tanda i’rab rofa’ hanya
pada mutsanna. Nun menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada fi’il mudhari’ yang
bersambung dengan dhomir tatsniyah atau dhomir jamak atau dhomir muannatsah
mukhotobah.
2.
I’rab
Nashob, memiliki 5 tanda yaitu fathah,
alif, kasroh, ya, dan hadzfun-nun. Salah satu dari kelima tanda itu yang
menjadi tanda asal i’rab nashob adalah fathah. Selain fathah, yang lainnya
adalah tanda pengganti. Fathah menjadi tanda i’rab nashob pada tiga tempat yakni
isim mufrad, jamak taksir, dan fi’il mudhori’ idza dakhola alaihi nasibun wa
lam yattashilu biakhirihi syaiun(ketika kemasukan amil nasib, dan tidak
bersambung dengan apapun). Alif menjadi tanda i’rab nashob pada al-asma’
al-khomsah. Kasroh menjadi tanda i’rab nashob pada jamak muannats salim. Ya’ menjadi tanda i’rab nashob pada dua tempat
yaitu tatsniyah dan jamak. Terakhir, hadzfun-nun menjadi tanda i’rab nashob
pada al-af’al al-khomsah allati rof’uha bi tsabatin nun(yang ketika keadaan
rofa’ tandanya adalah dengan tetapnya nun.
3.
I’rab
Khofad/Jarr, memiliki 3 tanda yaitu
kasroh, ya’ dan fathah. Kasroh adalah tanda asalnya dan yang lain adalah tanda
penggantinya. Kasroh menjadi tanda i’rab khofad pada tiga tempat ialah isim
mufrod munshorif, jamak taksir munshorif, dan jamak muannats salim. Ya’ menjadi
tanda i’rab khofad pada tiga tempat yaitu pada al-asma’ al-khomsah, tatsniyah,
dan jamak. Fathah menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada isim ghoiru munshorif/al-ismu
alladzi la yunshorifu (isim yang tidak bisa ditashrif, tetap dalam satu bentuk,
tidak bisa berubah)
4.
I’rab
Jazem, memiliki 2 tanda sukun dan hadzf.
Sukun adalah tanda asalnya sedangkan hadzf sebagai tanda penggantinya. Sukun
menjadi tanda i’rab jazem di satu tempat yaitu fi’il mudhori’ as-shohih
al-akhir (yang shohih huruf akhirnya). Hadzf menjadi tanda i’rab jazem pada dua
tempat yaitu pada fi’il mudhori’ yang mu’tal huruf akhirnya dan al-af’al
allati rof’uha bi tsabatin nun (fi’il-fi’il yang ketika keadaan rofa’ tandanya
dengan tetapnya nun).
Demikian perinciannya, jika kalian masih bingung memahaminya, klik
di sini untuk melihat contoh-contohnya dalam tabel. Karena ilmu nahwu sesuai
namanya yang artinya Nahwu=contoh, maka perlu banyak contoh untuk memahami ilmu
nahwu. Demikian sedikit ulasan kami tentang Ilmu Nahwu, semoga bermanfaat.

Comments