Membaca
judul di atas, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan islam terutama pondok
pesantren, tentu sudah tidak terasa asing. Iya, kitab al-ajurumiyah atau yang
lebih lebih sering disebut dengan kitab jurumiyah ini ibarat “menu wajib” bagi
pemula dalam belajar bahasa Arab. Rasanya tak mungkin jika orang mengaku
memahami ilmu bahasa Arab jika tak pernah disuguhi materi kitab satu ini.
Kitab
yang tipis ini mempelajari tentang tata bahasa Arab, dalam hal ini adalah ilmu
nahwu. Namun jangan heran, meskipun tipis dan ringkas, terdapat kitab-kitab
tebal yang jumlahnya ratusan hanya untuk men-syarah kitab al-ajurumiyah. Syarah
adalah istilah untuk kitab yang sengaja dibuat oleh para ulama’ untuk
menjelaskan dan menjabarkan isi kitab tertentu.
Mengenal kitabnya saja tak afdol jika tak
mengetahui riwayat tentang penulisya. Berikut adalah kisah singkat tentang penulis
al-ajurumiyah berdasarkan riwayat.
Penulisnya
adalah al-imam ash-Shonhaji, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad
bin Daud ash-Shonhaji. Lahir di Fez, Maroko pada tahun 672 H dan wafat pada 723
H. Konon, menurut Ibn al-Haj, ash-Shanhaji lahir di tahun wafatnya Imam Ibnu
Malik. Matn al-Ajurumiyah diawali dengan bab Kalam dan diakhiri dengan bab Mahfudzhot
al-Asma’. Tidak diketahui dengan jelas apakah Syekh ash-Shonhaji
membei judul kitab ini atau tidak. Namun
sudah biasa kita menyebutnya dengan menisbatkan matan ini kepada baliau, yaitu Matn
al-Ajurumiyah atau Matn al-jurumiyah.
Perihal
penamaan kitab ini Hayif an-Nabhan, pemilik sebuah majalah yang bernama al-Muqtathof,
menyebut dalam kitab Jurumiyah yang ia tahqih (sunting), bahwa nama
kitab al-Ajurumi ini adalah serapan dari bahasa Inggris, yaitu grammar
(tata bahasa). Dalam riwayat yang pernah penulis dengar bahwa penamaan
jurumiyah ini berasal dari sebuah peristiwa.
Suatu
ketika Syekh ash-Shonhaji selesai menulis kitab ini kemudian beliau mendatangi
sebuah sungai yang deras alirannya kemudian beliau lemparkan kitab ini ke sungai itu sambil
berdo’a beliau katakan “ya Allah... jika kitab ini bermanfaat untuk generasi
sekarang dan generasi selanjutnya maka berkahilah kitab ini agar tintanya tetap
melekat pada kertasnya, tapi jika kitab ini tak ada manfaatnya maka biarkanlah
tintanya luntur”. Beliau lemparkan kitab ini ke sungai sambil berkata “jar
miyah” (mengalirlah air). Setelah diambil ternyata kitab ini tak luntur, maka
yakinlah beliau bahwa kitab ini bermanfaat. Dari kisah demikianlah kemudian
penamaan kitab ini dinisbatkan dari peristiwa tersebut.
Suatu
adab yang perlu dilakukan adalah ketika mempelajari kitab para ulama yakni
dengan mengetahui kisah hidup penulisnya dan mencari tahu dasar penamaan kitab
yang akan dikaji adalah sebuah anjuran.
Hingga
saat ini belum ada yang menggeser pentingnya mempelajari gramatika bahasa Arab
dalam kitab Matn al-Ajurumiyah ini bagi pemula. Di dalam negeri kitab ini
memiliki banyak pengantar dalam bahasa indonnesia bertujuan untuk memahami isi
kitab. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa daerah dalam bentuk huruf pegon,
misalnya dalam bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan lain sebagainya.
Allah a’lam
bis-showab
Comments