BLANTERORIONv101

Matan al-Ajurumiyah (Jurumiyah)

11 August 2020

 

Membaca judul di atas, bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan islam terutama pondok pesantren, tentu sudah tidak terasa asing. Iya, kitab al-ajurumiyah atau yang lebih lebih sering disebut dengan kitab jurumiyah ini ibarat “menu wajib” bagi pemula dalam belajar bahasa Arab. Rasanya tak mungkin jika orang mengaku memahami ilmu bahasa Arab jika tak pernah disuguhi materi kitab satu ini.

            Kitab yang tipis ini mempelajari tentang tata bahasa Arab, dalam hal ini adalah ilmu nahwu. Namun jangan heran, meskipun tipis dan ringkas, terdapat kitab-kitab tebal yang jumlahnya ratusan hanya untuk men-syarah kitab al-ajurumiyah. Syarah adalah istilah untuk kitab yang sengaja dibuat oleh para ulama’ untuk menjelaskan dan menjabarkan isi kitab tertentu.

 Mengenal kitabnya saja tak afdol jika tak mengetahui riwayat tentang penulisya. Berikut adalah kisah singkat tentang penulis al-ajurumiyah berdasarkan riwayat.

Penulisnya adalah al-imam ash-Shonhaji, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud ash-Shonhaji. Lahir di Fez, Maroko pada tahun 672 H dan wafat pada 723 H. Konon, menurut Ibn al-Haj, ash-Shanhaji lahir di tahun wafatnya Imam Ibnu Malik. Matn al-Ajurumiyah diawali dengan bab  Kalam dan diakhiri dengan bab Mahfudzhot al-Asma’. Tidak diketahui dengan jelas apakah Syekh ash-Shonhaji membei  judul kitab ini atau tidak. Namun sudah biasa kita menyebutnya dengan menisbatkan matan ini kepada baliau, yaitu Matn al-Ajurumiyah atau Matn al-jurumiyah.

Perihal penamaan kitab ini Hayif an-Nabhan, pemilik sebuah majalah yang bernama al-Muqtathof, menyebut dalam kitab Jurumiyah yang ia tahqih (sunting), bahwa nama kitab al-Ajurumi ini adalah serapan dari bahasa Inggris, yaitu grammar (tata bahasa). Dalam riwayat yang pernah penulis dengar bahwa penamaan jurumiyah ini berasal dari sebuah peristiwa.

Suatu ketika Syekh ash-Shonhaji selesai menulis kitab ini kemudian beliau mendatangi sebuah sungai yang deras alirannya kemudian beliau  lemparkan kitab ini ke sungai itu sambil berdo’a beliau katakan “ya Allah... jika kitab ini bermanfaat untuk generasi sekarang dan generasi selanjutnya maka berkahilah kitab ini agar tintanya tetap melekat pada kertasnya, tapi jika kitab ini tak ada manfaatnya maka biarkanlah tintanya luntur”. Beliau lemparkan kitab ini ke sungai sambil berkata “jar miyah” (mengalirlah air). Setelah diambil ternyata kitab ini tak luntur, maka yakinlah beliau bahwa kitab ini bermanfaat. Dari kisah demikianlah kemudian penamaan kitab ini dinisbatkan dari peristiwa tersebut.

Suatu adab yang perlu dilakukan adalah ketika mempelajari kitab para ulama yakni dengan mengetahui kisah hidup penulisnya dan mencari tahu dasar penamaan kitab yang akan dikaji adalah sebuah anjuran.

Hingga saat ini belum ada yang menggeser pentingnya mempelajari gramatika bahasa Arab dalam kitab Matn al-Ajurumiyah ini bagi pemula. Di dalam negeri kitab ini memiliki banyak pengantar dalam bahasa indonnesia bertujuan untuk memahami isi kitab. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa daerah dalam bentuk huruf pegon, misalnya dalam bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan lain sebagainya.

Allah a’lam bis-showab