![]() |
| Gambar: Isim Tafdhil |
Isim tafdhil: adalah kata sifat yang di ambil dari
fi’il yang bertujuan untuk membandingkan antara dua hal. Satu di antara
keduanya memiliki nilai lebih terhadap lainnya. Memiliki wazan اَفْعَلُ
untuk bentuk mudzakkar dan wazan فُعْلَى
untuk muannats. Contoh: بَيْتُكَ اَكْبَرُ مِنْ
بَيْتِيْ وَ سَيَّارَتِيْ اَجْمَلُ مِنْ سَيَّارَتِكَ
(arti: rumahmu lebih besar dari rumahku dan mobilku lebih bagus dari mobilmu).
Yang pertama (rumahmu dan mobilku) disebut al-mufaddhol sedangkan yang ke dua
disebut al-mufaddhol ‘alaihi (rumahku dan mobilmu).
Isim tafdhil memiliki satu wazan : ialah اَفْعَلُ untuk mudzakkar dan فَعْلَي untuk muannats. Terkadang hamzah dari اَفْعَلَ itu dihapus dalam tiga kata ini: خَيْرٌ، شَرٌّ، حُبٌّ contoh dalam kalimat:
خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
.
Syarat Bentuk Isim Tafddhil:
Isim tafdhil harus dari fi’il tsulatsi yaitu tiga
hurufnya. tetap, mutashorif (bisa berubah sesuai tashrif/bukan isim jamid, ma’lum (kata kerja aktif), taam
(kata harus semprna) dan bisa dibandingkan.
Pengecualian untuk hal tentang warna, aib (keburukan orang), hiasan.
Dan apabila kita ingin menambahkan pola dalam isim
tafdhil selain yang telah disebutkan dlam syarat-syarat tersebut, maka bila
perlu diberi tamyiz (penjelasan) berupa mashdar manshub setelah kata اَشَدُّ، اَكْثَرُ، اَعْظَمُ، اَبْلَغُ، اَوْفَرُ atau yang serupa dengannya.
Contoh: اَلْقَطْنُ اَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الْوَرَقِ
.
Pola Isim Tafdhil
Isim tafdhil memiliki empat pola : isim tafdhil
tanpa alif-lam dan tidak di-idhofahkan, isim tafdhil dengan alif-lam, isim
tafdhil di-idhofah kepada isim nakiroh, dan isim tafdhil di-idhofah kepada isim
ma’rifah.
·
Pola yang pertama: Isim Tafdhil tanpa alif-lam dan tidak di-idhofahkan
Jika bentuk isim tafdhil tanpa alif-lam/al ta’rif dan tidak
diidhofahkan, maka harus dalam bentuk mufrod dan mudzakkar dan hendaknya
menambahkan kata penghubung berupa مِنْ
sebelum al-mufaddhol ‘alihi, contoh: خَالِدٌ اَفْضَلُ مِنْ سَعِيْدٍ (Kholid lebih utama dibanding
Said), الطَّائِرَةُ اَسْرَعُ مِنْ الْقِطَارِ
(Pesawat lebih cepat dibandingkan Kereta api), فَاطِمَةٌ اَجْمَلُ مِنْ اُخْتُهَا (Fathimah lebih cantik
dibandingkan dengan saudaranya).
·
Pola yang ke dua: Isim Tafdhil bersambung dengan alif-lam/al
ta’rif
Jika isim tafdhil bersambung dengan alif-lam (ال)
maka tidak menggunakan kata penghubung مِنْ
dan menyesuaikan kata yang ada sebelumnya, dalam segi apakah sebelumnya itu
mufrod, tatsniyah, jamak, pun juga dari segi mudzakkar atau muannatsnya. الطِّفْلُ الْأَصْغَرُ قَدْ دَخَلَ الْمَدْرَسَةَ (Anak yang paling kecil (bungsu) itu sudah masuk sekolah) الطَّالِبَةُ الْفُضْلَى قَدْ نَجَحَتْ فِيْ
الإِمْتِحَانِ
(siswi terbaik itu telah berhasil dalam ulangan), اَلْوَالِدَانِ
الْاَكْبِرَانِ
(dua anak laki-laki yang besar), المظفتان الفضليان (), dan lain-lain.
·
Pola yang ke tiga:
Isim Tafdhil
di-idhofahkan kepada isim nakiroh
Ketika isim tafdhil disambungkan (di-idhofahkan)
kepada isim nakiroh, maka isim tafdhil harus mufrod mudzakkar dan tidak
menggunakan kata penghubung berupa مِنْ
, contoh: خَالِدٌ اَعْلَمُ قَائِدٍ (Kholid panglima tercerdik), فَاطِمَةٌ اَكْرَمُ امْرَأَةٍ (Fathimah wanita termulia), هَذَانِ اَحْسَنُ رَجُلَيْنِ (ini adalah dua pria yang baik),
هَاتَانِ اَعْلَمُ امْرَأَتَيْنِ (ini adalah dua orang wanita
pintar), المُجَاهِدُوْنَ اَفْخَمُ رِجَالٍ
(Orang yang jihad (di jalan Allah) adalah pria terbaik. الْمُتَعَلِّمَاتُ اَفْضَلُ نِسَاءٍ (para pelajar (pr) itu adalah lebih utamanya wanita).
·
Pola yang ke empat: Isim Tafdhil di-idhafahkan kepada isim ma’rifah
Jika isim tafdhil di sambungkan (idhofahkan) kepada
isim ma’rifah maka tidak menggunakan kata penghubung berupa مِنْ
, dan boleh dengan dua cara: 1. Sesuai pola yang ke tiga, yaitu harus mufrod mudzakkar. 2. Menggunakan pola
yang ke dua yaitu menyesuaikan kata yang ada sebelumnya, dalam segi apakah sebelumnya itu
mufrod, tatsniyah, jamak, pun juga dari segi mudzakkar atau muannatsnya. Contoh
cara 1: عَلِيْ اَفْضَلُ الْقَوْمِ (‘Ali adalah kaum
yang utama), هَذَانِ اَفْضَلُ الْقَوْمِ (dua (orang) ini adalah kaum yang utama), هَؤُلَاءِ اَفْضَلُ الْقَوْمِ (mereka adalah kaum yang utama), فَاطِمَةٌ اَفْضَلُ النِّسَاءِ (fathimah wanita utama), هَاتَانِ اَفْضَلُ النِّسَاءِ (dua orang ini adalah wanita
yang utama), هُنَّ اَفْضَلُ النِّسَاءِ. Contoh cara 2: عَلِيْ اَفْضَلُ الْقَوْمِ, هَذَانِ اَفْضَلَا الْقَوْمِ, هَؤُلَاءِ
اَفْضَلُوْا الْقَوْمِ,
فَاطِمَةٌ فُضْلَى النِّسَاءِ,
هَاتَانِ فُضْلَيَانِ النِّسَاءِ,
هُنَّ فُضْلَيَاتُ النِّسَاءِ.
Amal (pengaruh) Isim Tafdhil
Isim tafdhil berfungsi merofa’kan fa’il. Dan
kebanyakan yang dirofa’kan adalah dhomir mustatir, contoh: خَالِدٌ اَشْجَعُ مِنْ سَعِيْدٍ (Kholid lebih berani
ketimbang Said). Dan terkadang merofa’kan isim dzhohir, dan itu hanya ditemukan
pada sedikit kasus. Contoh: مَرَرْتُ بِرَجُلٍ اَكْرَمُ مِنْهُ اَبُوْهُ . Lebih tepat ditulis اَكْرَمُ
karena sebagai khobar muqoddam (khobar yang didahulukan) sedangkan اَبُوْهُ
sebagai mubtada’ mua’khkhor (awalan/mubtada’yang diakhirkan) dan merupakan
susunan jumlah (kalimat) mubtada khobar untuk mensifati kata رَجُلْ.
Semoga penjelasan yang singkat ini membantu anda untuk
memahami terkait bab isim tafdhil. Sekian wassalamu wr. wb.
Sumber: al-Qawaid al-Asasiyah fi Ilm an-Nahwi

Comments