![]() |
| Gambar: I'rab |
Bagi anda yang pernah belajar bahasa Arab dipastikan tak asing jika mendengar kata
Nahwu. Lain halnya jika yang mendengar adalah mereka yang belum pernah
mempelajari bahasa Arab sama sekali sudah tentu tak tahu apa itu Nahwu. Ya
jelas lah ya? hehee
Kali ini kita akan bahas tentang Nahwu dengan berusaha semaksimal mungkin agar uraian dan penjelasan dalam tulisan ini mampu dipahami bahkan oleh orang yang sebelumnya belum pernah mempelajari apa itu Nahwu.
Nahwu adalah salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari tentang hubungan antara beberapa kata dalam satu kalimat dan menjelaskan fungsinya. Termasuk pelaku, kata kerja, objek, dan kata sifat, kata keterangan, kalimat pasif, kalimat aktif, dan lain-lain. Sebagaimana dalam Bahasa Indonesia kita kenal dengan S-P-O-K. Dalam bahasa Arab, setiap jenis kata yang tersusun dalam kalimat akan mempengaruhi harakat pada baris akhir kata. Misalnya, jika kata berfungsi sebagai subjek maka harakat akhirnya adalah dhammah, jika sebagai kata kerja lampau (fi’il madhi) maka harakat akhirnya fathah, jika sebagai objek maka harakat akhirnya adalah fathah dan seterusnya. Nah, bab tersendiri dalam ilmu nahwu yang mempelajari harakat akhir kata dalam susunan kalimat dikenal dengan istilah i’rab. Nah i’rab inilah yang secara khusus dibahas kali ini.
Pertanyaan
yang mungkin muncul kemudian adalah, apakah selamanya kata yang memiliki jabatan
sebagai subyek selalu dhammah harakat akhirnya, kata kerja lampau (fi’il madhi)
selalu fathah, objek selalu fathah? Jawabannya beragam. Satu misal adalah fi’il
madhi, akan selalu fathah huruf akhirnya. Ini sudah menjadi ketentuan yang
tidak bisa ditawar. Sedangkan subjek tak
selalu ditandai dengan dhammah, melainkan bisa dhammatain, wawu, atau alif.
Objek tak selalu fathah melainkan juga bisa ditandai dengan dengan fathatain,
ya’, dan bisa kasrah. Kok bingung ya? Hehee. Perlu kita ketahui bahwa
sebenarnya tanda i’rab secara umum ada empat, i’rab rofa’, i’rab nashob, i’rab
khofad/jarr, dan i’rab jazem. Coba kita perinci satu persatu di bawah ini agar
lebih mudah memahaminya.
1.
I’rab
Rofa’, memiliki 4 tanda yaitu dhammah,
wawu, alif, dan nun. Yang menjadi tanda asal i’rab rofa’ adalah dhammah, selain
itu adalah tanda pengganti dhammah, secara teori. Dhammah menjadi tanda i’rab
rofa’ pada empat tempat yaitu isim mufrod, jamak taksir, jamak muannats salim,
dan fi’il mudhari’ alladzi lam yattashilu bi akhiri syai’(tidak bersambung
dengan apapun). Wawu menjadi tanda i’rab rofa’ pada dua tempat yaitu jamak
mudzakkar salim dan al-asma’ al-khomsah. Alif menjadi tanda i’rab rofa’ hanya
pada mutsanna. Nun menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada fi’il mudhari’ yang
bersambung dengan dhomir tatsniyah atau dhomir jamak atau dhomir muannatsah
mukhotobah.
2.
I’rab
Nashob, memiliki 5 tanda yaitu fathah,
alif, kasroh, ya, dan hadzfun-nun. Salah satu dari kelima tanda itu yang
menjadi tanda asal i’rab nashob adalah fathah. Selain fathah, yang lainnya
adalah tanda pengganti. Fathah menjadi tanda i’rab nashob pada tiga tempat
yakni isim mufrad, jamak taksir, dan fi’il mudhori’ idza dakhola alaihi
nasibun wa lam yattashilu biakhirihi syaiun(ketika kemasukan amil nasib, dan
tidak bersambung dengan apapun). Alif menjadi tanda i’rab nashob pada
al-asma’ al-khomsah. Kasroh menjadi tanda i’rab nashob pada jamak muannats
salim. Ya’ menjadi tanda i’rab nashob pada dua tempat
yaitu tatsniyah dan jamak. Terakhir, hadzfun-nun menjadi tanda i’rab nashob
pada al-af’al al-khomsah allati rof’uha bi tsabatin nun(yang ketika keadaan
rofa’ tandanya adalah dengan tetapnya nun.
3.
I’rab
Khofad/Jarr, memiliki 3 tanda yaitu
kasroh, ya’ dan fathah. Kasroh adalah tanda asalnya dan yang lain adalah tanda
penggantinya. Kasroh menjadi tanda i’rab khofad pada tiga tempat ialah isim
mufrod munshorif, jamak taksir munshorif, dan jamak muannats salim. Ya’ menjadi
tanda i’rab khofad pada tiga tempat yaitu pada al-asma’ al-khomsah, tatsniyah,
dan jamak. Fathah menjadi tanda i’rab rofa’ hanya pada isim ghoiru munshorif/al-ismu
alladzi la yunshorifu (isim yang tidak bisa ditashrif, tetap dalam satu bentuk,
tidak bisa berubah)
4.
I’rab
Jazem, memiliki 2 tanda sukun dan hadzf.
Sukun adalah tanda asalnya sedangkan hadzf sebagai tanda penggantinya. Sukun
menjadi tanda i’rab jazem di satu tempat yaitu fi’il mudhori’ as-shohih
al-akhir (yang shohih huruf akhirnya). Hadzf menjadi tanda i’rab jazem pada dua
tempat yaitu pada fi’il mudhori’ yang mu’tal huruf akhirnya dan al-af’al
allati rof’uha bi tsabatin nun (fi’il-fi’il yang ketika keadaan rofa’ tandanya
dengan tetapnya nun).
Demikian perinciannya, jika kalian masih belum paham, klik di sini
untuk melihat contoh-contohnya dalam tabel. Insya Allah mudah kok dipahami,
percaya deh. Sebab ilmu nahwu itu sesuai
namanya yang artinya Nahwu=contoh, maka perlu banyak contoh untuk memahami ilmu
nahwu. Demikian sedikit ulasan kami tentang Ilmu Nahwu, semoga bermanfaat.

Comments