![]() |
| Gambar: Makhfudhotul Asma' |
Setelah selesai pembahasan tentang
marfu’atul asma’, manshubatul asma’, kali ini kita akan bahas tentang bab
terakhir dalam kitab Matan al-Ajurumiyah. Kemudian, Apa itu makhfudhotul asma’?
makhfudhotul asma’ itu adalah isim-isim yang memiliki i’rab khofadh/jar. Ada
tiga macam isim yang ber-i'rab khofadh; khofadh karena huruf, khofadh karena
idhofah, tabi’ lil makhfudh.
1.
Khofadh
karena Huruf (مَخْفُوْضٌ بِالْحَرْفِ)
Adapun isim yang khofadh karena
huruf ialah isim yang dikhofadhkan dengan huruf مِنْ, إِلَى, عَنْ,
عَلَى, , فِيْ,
رُبَّ, الْبَاءُ (huruf ba’), الْكَافُ
(huruf kaf), اللاَّمُ
(huruf lam),مُذْ, ,مُنْذُ, dan huruf-huruf qosam (untuk menyatakan sumpah)
yaitu: الْوَاوُ (huruf wawu), الْبَاءُ
(huruf ba’), dan التَّاءُ
(huruf ta’). Contohnya sebagai berikut:
·
سِرْتُ مِنَ الْبَصْرَةِ إِلَى
الْكُوْفَةِ
(aku berjalan dari Bashrah menuju Kufah)
·
رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ الْقَوْسِ (aku melempar anak panah dari busurnya)
·
رَكِبْتُ عَلَى الْفَرَسِ
(aku menunggang kuda)
·
الْمَاءُ فِيْ الْكَوْزِ (air dalam cangkir)
·
رُبَّ رَجُلٍ كَرِيْمٍ لَقِيْتُهُ (sedikit sekali orang ramah yang saya temui)
·
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ
(aku berjalan bersama Zaid)
·
زَيْدٌ كَالْبَدْرِ
(Zaid bagaikan bulan purnama)
·
الْحَمْدُ للهِ (Puji Tuhan)
·
مَا رَأَيْتُهُ مذ يَوْمِ الْجُمْعَةِ/مَارَأَيْتُهُ مُنْذُ
يَوْمِ الْجُمْعَةِ
(aku tak melihatnya sejak hari Jum’at)
Contoh Huruf Qosam dalam kalimat:
·
وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ الْفَرَائِضَ (demi Allah aku akan
menjalankan perkara-perkara Fardhu)
·
بِاللهِ لَأَجْتَبَنَّ الْكَبَائِرَ (demi Allah aku akan menjauhi dosa-dosa besar)
·
تَااللهِ لَأَحْتَرِمَنَّ الْوَطَنِيْ (demi Allah aku akan
memuliakan negeriku)
2. Khofadh karena Idhofah (مَخْفُوْضٌ بِالْإِضَافَةِ)
Idhofah
ialah gabungan dua kata yang memiliki satu makna. Isim yang khofadh karena
idhofah ada kemungkinan memiliki dua macam arti. 1. Dikira-kirakan memiliki
arti “milik”/”kepunyaan” (اللّاَمُ), 2. Dikira-kirakan memiliki arti “dari”
(مِنْ).
v Dikira-kirakan memiliki arti huruf lam (“milik”/”kepunyaan”) (مَا يُقَدَّرُ بِاللَّامِ)
Maksudnya adalah idhofah ini memiliki arti
huruf اللَّامُ
yaitu kepunyaan/milik. Contoh: كِتَابُ زَيْدٍ
(bukunya Zaid) jika dikira-kira artinya menjadi seperti كِتَابٌ لِزَيْدٍ
v Dikira-kirakan memiliki arti huruf min
“dari” (مَا يُقَدَّرُ بِمِنْ)
Maksudnya adalah idhofah ini memiliki arti huruf مِنْ
yaitu dari. Contoh:
· ثَوْبُ
خُزٍّ
(pakaian sutera) => ثَوْبٌ مِنْ خُزٍّ
(pakaian dari sutera)
· بَابُ
سَاجٍ (pintu
kayu) => بَابٌ مِنْ سَاجٍ
(pintu dari kayu)
· خَاتَمُ
حَدِيْدٍ
(cincin besi) => خَاتَمٌ مِنْ حَدِيْدٍ
(cincin dari besi)
3. Tabi’ lil Makhfudh (تَابِعٌ لِلْمَخْفُوْضِ)
Namanya juga
tabi’, artinya pengikut. Tabi’ (na’at, ‘athof, taukid, badal) lil makhfudh
selalu khofadh sebab mengikuti i’rab yang diikutinya yang juga khofadh. Sebagaimana dalam bab marfu’atul asma’ dan
manshubatul asma’, tawabi’ ada empat macam yaitu:
1. Na’at ( ُالنَّعْت)
Na’at sama dengan Sifat. Ketika khofad, na’at akan
mengikuti man’ut. Selain itu na’at juga akan mengikuti man’ut dalam hal ma’rifat
ataupun nakirohnya. Contoh:
ü
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ الْعَاقِلِ
2. Athof(الْعَطْفُ)
‘Athof ialah kumpulan huruf yang berfungsi sebagai
penghubung antara satu lafadz dengan lafadz lain. Huruf ‘Athof ada
sepuluh (10) jumlahnya yakni: wau (و), fa’ (ف), tsumma (ثُمَّ), aw (أَوْ), am (أَمْ), imma (إِمَّا), bal (بَلْ), la (لَا), lakin (لَاكِنْ), dan hatta (حَتَّى).
Lafadz setelah huruf
‘athof dinamakan ma’thuf, sedangkan lafadz sebelumnya dinamakan ma’thuf
‘alaih.
Dalam hal i’rab, ketika ada isim yang di-‘athofkan
kepada isim yang khofad/jarr, maka isim tersebut khofadh/jarr juga. Contoh:
ü
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ ثُمَّ عَمْرٍو
3. Taukid
Taukid secara bahasa artinya penguatan atau penegasan.
Lafadz yang menjadi taukid itu sesuai dengan muakkad (lafadz yang ditaukid-i)
yakni mengikuti ketika rofa’, nashob, ataupun jarr, juga mengikuti makrifatnya
muakkad.
Taukid selalu menggunakan kata-kata tertentu yang bisa
jadi sudah umum diketahui yaitu ,أَجْمَعُ,كُلٌّ,عَيْنٌ,نَفْسٌ
serta lafadz yang mengikuti lafadz أَجْمَعُ
ialah .أَبْصَعُ,أَبْتَعُ,أَكْتَعُ
Contoh taukid yang mengikuti i’rab khofadh/jarr:
ü
مَرَرَتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِيْنَ أَكْتَعِيْنَ
4. Badal
Badal secara bahasa berarti mengganti, mengubah,
menukar. I’rab badal selalu mengikuti yang dibadali (mubdal minhu). Badal ada
empat macam: 1. Badal syai’ min syai, 2. Badal ba’dh min kull, 3. badal
isytimal, 4. Badal gholath.
بَدَلُ الشَّيْءِ مِنَ
الشَّيْءِ : قَامَ زَيْدٌ أَخُوْكَ (Zaid berdiri ia (Zaid)
itu saudaramu)
1. بَدَلُ
الْبَعْضِ مِنَ الْكُلِّ : أَكَلْتُ الرَّغِيْفَ ثُلُثَهُ (aku memakan roti, sepertiganya)
2. بَدَلُ
الاِشْتِمَالِ : نَفَعَنِيْ زَيْدٌ عِلْمُهُ (Zaid bermanfaat bagiku yaitu ilmunya)
3. بَدَلُ
الْغَلَطِ : رَأَيْتُ زَيْدًا الْفَرَسَ(aku melihat Zaid, eh maksudku
aku melihat kuda)
*keterangan: Badal Gholath dalam contoh di
atas adalah bahwa yang dimaksud mutakallim (pembicara) ialah ia keliru mengucap
telah melihat Zaid padahal yang ia maksud adalah ia telah melihat kuda.
Contoh badal
yang khofadh/jarr :
ü
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ أَخِيْكَ
Demikian ulasan tentang Makhfudhotul Asma’. Semoga
mudah dipahami dan membawa manfaat bagi pembaca. Pertanyaan, kritikan, dan
saran silahkan ditulis di kolom komentar di bawah ini ya? Sekian. Wassalaamu
‘alaikim warahmatullahi wa barakatuh.

Comments