Dalam bahasa Arab ada istilah Fi’il Muta’addi dan Fi’il Lazim. Jika kita cari padanan dalam bahasa Indonesia, maka akan kita temukan bahwa Fi’il Muta’addi ini serupa dengan Kata Kerja Transitif yang berarti kata kerja yang membutuhkan objek (disamping subjek) untuk melengkapi sebuah kalimat. Sedangkan Fi’il Lazim serupa dengan Kata Kerja Intransitif yaitu kata kerja yang hanya disebutkan subjek tanpa dilengkapi objek dalam kalimatnya. Jadi yang membedakan hanya pada ada atau tidaknya objek.
Kata kunci :
· Fi’il = Kata Kerja
· Fa’il = Subjek, Pelaku
· Maf’ul bih = Objek
· Fi’il Muta’addi = Kata Kerja Transitif
· Fi’il Lazim = Kata Kerja Intransitif
1. Fi’il Muta’addi, disebut juga Fi’il Waqi’. Ada dua macam Muta’addi bi Nafsihi dan
Muta’addi bi Ghoirihi.
Muta’addi bi nafsihi ialah fi’il muta’addi yang membutuhkan maf’ul bih dan bersambung
dengannya lansung tanpa perantara. Contoh : فَهِمَ التَّلَامِيْذُ الدَّرْسَ
(murid-murid telah memahami pelajarannya). Maf’ul bih nya dinamakan maf’ul bih
yang shorih.
Muta’ddi bi
ghoirihi tidak sebagaimana muta’ddi binafsihi, melainkan ada perantara huruf
jarr untuk bersambung dengan maf’ul bih. Contoh : ذَهَبْتُ بِكَ Nah maf’ul bih tersebut termasuk dalam kategori ghoiru
shorih sebab ada perantara huruf ba’.
Pendapat
lain yang barangkali berseberangan dari pengertian sebelumnya bahwa
Ibnu ‘Aqil berkata (dalam Syarah Ibn ‘Aqil juz 2 halaman 533) fi’il terbagi
atas fi’il muta’addi dan fi’il lazim. Fi’il muta’addi ialah fi’il yang
mempunyai maf’ul bih tanpa perantara huruf jarr, [contoh: ضَرَبْتُ زَيْدًا]
sedangkan fi’il lazim ialah fi’il yang tidak memiliki maf’ul bih kecuali dengan
huruf jarr [contoh : مَرَرْتُ بِزَيْدٍ] atau (jika tidak demikian) tanpa maf’ul
bih sama sekali.
Fi’il tsulatsi lazim adakalanya menjadi muta’addi
dengan tambahan hamzah di awalnya atau tadh’if di tengah-tengah (maksudnya
mengikuti wazan أَفْعَلَ
atau فَعَّلَ) contoh : الْحَمْد للهِ أَذْهَبَ عَنِ الْأَذَى dan قَطَّعَ مُحَمَّدٌ الْحَبْلَ
.
Fi’il muta’addi ada tiga macam berdasarkan berapa
banyak maf’ul bih. Ada yang membutuhkan
1 maf’ul bih, 2 maf’ul bih, dan 3 maf’ul bih.
Contoh fi’il yang membutuhkan 1 maf’ul bih ialah كَتَبَ , أَخَذَ , غَفَرَ , أَكْرَمَ
, عَظَّمَ
. Contoh dalam kalimat : كَتَبَ عَلِيٌّ الدَّرْسَ .
Contoh fi’il yang membutuhkan 2 maf’ul bih ialah أَعْطَى , سَأَلَ
, مَنَعَ , مَنَحَ
, كَسَا , أَلْبَسَ , عَلَّمَ . Contoh dalam kalimat : أَعْطَيْتَكَ
كِتَابًا .
Contoh fi’il yang membutuhkan 3 maf’ul bih ialah : حَدَثَ , أَرَى , أَعْلَمَ
, أَنْبَأَ , نَبَّأَ , أَخْبَرَ , خَبَّرَ . Contoh dalam kalimat : حَدَثْتُ زَيْدًا إِيَّاكَ حَقِيْقًا .
2. Fi’il Lazim, disebut juga Fi’il ghoiru
Waqi’. Fi’il lazim tidak menggunakan
maf’ul bih dalam kalimatnya melainkan cukup bersandar pada fa’il saja. Contoh :
ذَهَبَ
سَعِيْدٌ
, سَافَرَ خَالِدٌ
.
Kriteria Fi’il Lazim :
1) Merupakan jenis fi’il yang menggambarkan
watak, karakter, perangai, misalnya : شَجُعَ , جَبُنَ , حَسُنَ , قَبُحَ .
2) Menunjukkan pada bentuk, seperti bentuk
badan, misalnya : طَالَ , قَصَرَ , dan lain sebagainya.
3) Menunjukkan pada kebersihan, misalnya : طَهَرَ الثَّوْبُ , نَظُفَ الثَّوْبُ.
4) Menunjukkan pada keadaan yang kotor,
seperti : وَسِخَ الْجِسْمُ , دَنِسَ الْجِسْمُ , قَذِرَ الْجِسْمُ .
5) Menunjukkan pada ‘Aradh’ (dalam kedokteran
disebut gejala penyakit) atau selain itu, seperti
مَرِضَ , كَسِلَ
, نَشِطَ , فَرِحَ , حَزِنَ , شَبِعَ , عَطِشَ
.
6) Merupakan jenis warna : اِحْمَرَّ , اِخْضَرَّ .
7) Bermakna ‘aib : عَمِشَ , عَوِرَ
.
8) Menunjukkan arti warna dan bentuk orang : دَعِجَ , كَحِلَ
.
9) Merupakan fi’il yang mengikuti wazan فَعُلَ
seperti حَسُنَ , شَرُفَ , جَمُلَ , كَرُمَ .
10) Merupakan fi’il yang mengikuti wazan اِنْفَعَلَ
seperti اِنْكَسَرَ , اِنْحَطَمَ , اِنْطَلَقَ
.
11) Merupakan fi’il mengikuti wazan اِفْعَلَّ
seperti اِغْبَرَّ , اِزْوَرَّ .
12) Merupakan fi’il yang mengikuti wazan اِفْعَالَّ
seperti اِهَامَّ , اِزْوَارَّ
.
13) Merupakan fi’il yang mengikuti wazan اِفْعَلَلَّ
seperti اِقْشَعَرَّ , اِطْمَأَنَّ .
14) Merupakan fi’il yang mengikuti wazan اِفْعَنْلَلَ
seperti اِحْرَنْجَمَ , اِقْعَنْسَسَ .
Kapan fi’il lazim berganti menjadi fi’il
muta’addi?
Fi’il lazim berganti menjadi fi’il
muta’addi dikarenakan salah satu dari tiga keadaan berikut ini :
1. Ketika mengikuti wazan اَفْعَلَ
misalnya : أَكْرَمْتُ
الْمُجْتَهِدَ .
2. Ketika mengikuti wazan فَعَّلَ
misalnya : عَظَّمْتُ الْعُلَمَاءَ .
3. Sebab perantara huruf jarr, misalnya : أَعْرِضْ عَنِ الرَّذِيْلَةِ
, وَتمَسَّكْ
بِالْفَضِيْلَةِ
.
Demikianlah pembahasan tentang fi’il muta’addi dan
fi’il lazim. Semoga mudah dipahami dan bermanfaat. Jika anda menyukai artikel
semacam ini silahkan ikuti yah. Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom
komentar. Sekian dan salam.
Comments