Shorof, ialah ilmu yang membahas tentang perubahan keadaan kata (al-kalimah adalah yang dimaksud dengan kata) dari rupa/bentuk satu ke bentuk-bentuk lainnya dengan tujuan untuk menemukan makna yang diinginkan.
Perlu kamu ketahui bahwa Ilmu Shorof diibaratkan sebagai ibunya ilmu pengetahuan sedangkan nahwu sebagai bapaknya, dan hendaknya kamu mendahulukan ibu sebelum bapak, sebagaimana ibarat bahwa syurga di bawah telapak kaki ibu, dan kamu tak akan memperoleh kebahagiaan syurga selain dengan jalan memuliakan ibu.
Tashrif (satu akar dengan kata shorof) secara bahasa berarti perubahan. Sedangkan Tashrif secara istilah adalah perubahan satu asal ke dalam bentuk yang beranekaragam untuk mendapatkan makna yang dimaksud, tidak akan berhasil kecuali dengan cara tersebut (tashrif).
Ahli bidang Ilmu Shorof menempatkan wazan-wazan (secara bahasa wazan berarti “timbangan” yang berfungsi sebagai rumus yang menentukan sighat dalam tashrif) dalam fi’il tsulatsi berupa wazan فَعَلَ dan dalam fi’il ruba’i berupa فَعْلَلَ dan setiap huruf (pada setiap kata, dalam bahasa Arab minimal ada 3 huruf dalam 1 kata) yang bertepatan dengan huruf fa’ nya wazan maka dinamakan fa’ fi’il, contoh kata نَصَرَ huruf nun pada kata nashoro bertepatan dengan fa’ nya wazan فَعَلَ makanya dinamakan fa’ fi’il, lalu huruf yang bertepatan dengan ‘ain nya wazan dinamakan ‘ain fi’il, dan huruf yang bertepatan dengan lam nya wazan maka dinamakan lam fi’il, dari sini faham ya. Selanjutnya kita akan membahas tentang Shiyagh.
Shiyagh adalah bentuk jamak dari shighah atau sering kita sebut shighat yang berarti bentuk. Dalam Tashrif ada 9 macam bentuk shighat.
1. Fi’il Madhi: ialah kata kerja yang menunjukkan sesuatu yang telah terjadi sebelum dikatakan, singkatnya, Fi’il Madhi adalah Kata Kerja Lampau. Contohya: نَصَرَ زَيْدٌ (Zaid telah menolong).
2. Fi’il Mudhori’: ialah kata kerja yang menunjukkan pada sesuatu yang sedang atau setelah dikatakan, Fi’il Mudhori’ adalah bisa jadi Kata Kerja Sekarang (Present;dalam bahasa Inggris) atau Yang Akan Datang (future) . Contohnya: يَأْكُلُ زَيْدٌ اَلْآنَ (Zaid sedang makan sekarang) يَرْجِعُ زَيْدٌ غَدًا (Zaid akan balik/kembali besok).
3. Mashdar: sighat Mashdar menerangkan tentang kejadiannya saja. Mashdar merupakan kata benda. Ada pendapat yang mengatakan bahwa mashdar lah sumber dari setiap kata dalam bahasa Arab, pendapat yang berlainan mengatakan yang menjadi sumber kata adalah fi’il madhi.
Mashdar ada 2 macam : pertama adalah Mashdar Mim/Mimi, mashdar ini ditandai dengan adanya mim tambahan di awal, contohnya مَنْصَرًا (pertolongan), nah mashdar jenis ini disebut juga sebagai Mashdar Qiyasi. Kedua adalah Mashdar Ghoiru Mimi. Mashdar yang ini tidak ada mim tambahan, contoh; نَصْرًا (pertolongan) , sebutan lain untuk mashdar ini adalah Mashdar Sima’i.
4. Isim Fa’il: adalah yang menunjukkan fungsinya sebagai pelaku suatu pekerjaan/tindakan, contoh: كَاتِبٌ (penulis/yang menulis).
5. Isim Maf’ul: ialah yang menjadi objek suatu pekerjaan, misalnya: مَكْتُوْبٌ (sesuatu yang ditulis).
6. Fi’il Amar: ini adalah kata kerja perintah, contoh: اِقْرَأْ (bacalah).
7. Fi’il Nahi: ini adalah bentuk kata kerja yang berfungsi untuk sebagai larangan, kebalikan dari fi’il amar, contoh لَا تَكْتُبْ (jangan tulis).
8. Isim Zaman: ialah isim yang bentuknya menunjukkan sebagai waktu terjadinya suatu pekerjaan, contohnya: مَنْصَرٌ yang berarti waktu adanya pertolongan.
9. Isim Makan: ialah isim yang berfungsi sebagai Tempat Terjadinya suatu Pekerjaan, contohnya: مَكْتَبٌ yang berarti tempat terjadinya pekerjaan menulis atau bisa juga berarti tempat adanya tulisan.
Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Masukan, kritik membangun, dan saran silahkan e-mail saya di iwanbelajarnulis@gmail.com. Terima kasih
Sumber: Taqrirat Mandzumah AL-QAWAID AS-SHORFIYAH Fi al-Lughah al-‘Arabiyah Li as-Shibyan, Penerbit Darul Mubtadiin Lirboyo Kediri

Comments