![]() |
| Gambar: Hubungan antara Nahwu dan Shorof |
Nahwu adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara menyusun jumlah
(kalimat) yang baik dan benar. Ada dua istilah dalam kaidah ilmu nahwu yang
sering dibahas ialah ‘amil dan i’rab. ‘Amil sendiri berfungsi untuk menentukan
perubahan makna serta harokat suatu kalimah (kata), sedangkan perubahan bentuk
harakat inilah yang biasa disebut dengan istilah i’rab.
Kemudian, apa keterkaitan ilmu nahwu dengan ilmu shorof?
Keterkaitan nahwu dan shorof sering dihubungkan dengan pepatah:
اَلصَّرْفُ أُمُّ الْعِلْمِ وَ النَّحْوُ أَبُوْهَا
(‘shorof
itu seumpama ibu ilmu (bahasa arab) dan nahwu adalah ayahnya’).
Kedua ilmu ini ada yang mengistilahkan
sebagai Ilmu Alat, sebab keduanya adalah alat untuk kita dapat memahami bahasa
arab, baik yang berbentuk tulisan maupun ucapan penuturnya.
Nahwu dan shorof sering juga diucapkan
menjadi satu idiom, yakni nahwu-shorof. Nahwu dan shorof merupakan cabang ilmu
bahasa arab yang dianggap sebagai ilmu yang harus dipelajari terlebih dahulu
oleh pemula untuk bisa memahami bahasa arab.
Perbedaan yang mendasar adalah jika ilmu shorof membahas tentang perubahan
bentuk-bentuk kata, kemudian dari perubahan ini melahirkan macam-macam
kata.
Sedangkan ilmu nahwu memberikan kita kaidah cara menyusun komposisi
kalimat sehingga membentuk kalimat utuh yang benar. Termasuk memberi
harakat yang benar, dalam hal ini
berkaitan dengan ‘irab yang telah saya sebutkan di awal pembahasan tentang
nahwu.
Penerapan ilmu shorof pada contoh berikut ini:
·
عَالِمٌ
(ahli ilmu)
·
مَعْلُوْمٌ
(yang diketahui)
·
مُعَلِّمٌ
(guru)
·
تَعْلِيْمٌ
(pendidikan)
·
مُتَعَلِّمٌ
(pelajar)
Dari contoh tersebut kita lihat bahwa yang menjadi akar kata adalah
terdiri dari tiga huruf dasar ialah ع ل م
(‘ain, lam, mim) yang kemudian mengalami perubahan bentuk sesuai wazan (rumus)
dan tentunya membawa makna tersendiri dari setiap perubahan. Coba lihat pada
link ini tentang shorof.
Berikutnya, penerapan ilmu nahwu pada
jumlah (kalimat) berikut ini:
1. نَصَرَ زَيْدٌ بَكْرًا
(Zaid menolong Bakr)
2. نَصَرَ زَيْدًا بَكْرٌ
(Bakr Menolong Zaid)
Perbedaan harakat dari kedua contoh di atas
menentukan siapa pelakunya dan siapa objeknya. Pada contoh 1 Zaid berharakat
dhommatain, ini menunjukkan bahwa Zaid adalah pelakunya, kemudian pada contoh 2
Zaid berharakat fathatain posisinya sebagai objek. Sampai di sini sudah mulai
paham kan?

Comments